Goodbye 2015, Welcome 2016

Post ini baru saya buat pada tanggal 3 Januari 2016. Niatnya ingin mem-post-kan tulisan ini tgl 1 Januari 2016, tetapi karena dua hari setelah tahun baru 2016 ini banyak saudara dan keluarga besar dari pihak ibu saya yang datang dan makan besar dirumah, saya baru bisa post tulisan ini sekarang. Hal yang paling saya senangi adalah dirumah banyak makanan, mau dari yang dibeli sendiri atau diberikan oleh saudara saya yang datang, saya sangat bersyukur sampai tahun ini saya dan keluarga tidak kekurangan apapun.

Tahun 2015 merupakan tahun jatuh bangun saya sendiri secara pribadi. Mulai dari pekerjaan, kesehatan, kebingungan saya juga untuk melangkah kedepan, kecemasan saya akan masa depan, keraguan saya untuk mempercayai orang baru, dan ketakutan akan usaha yang saya jalankan nasibnya akan seperti apa. Saya hanya bisa berserah untuk kedepan, agar saya bisa kuat menjalani apapun itu, dan tentunya agar saya bisa jadi lebih besar dari ketakutan saya sendiri.

Satu hal yang saya syukuri adalah saya masih bisa bertahan sampai hari ini dengan berbagai pergumulan yang mungkin tidak saya share secara frontal di blog saya karena hal itu sangat private dan hanya beberapa orang yang saya percaya mengetahui pergumulan saya.

Saya bersyukur setelah saya tidak bekerja kantoran pun saya bisa memulai usaha sendiri meski jatuh bangun dan tentunya pusing karena pertama kalinya bangun usaha, meskipun saya punya partner kerja yang bisa saya andalkan. Saya bersyukur untuk partner kerja yang merupakan salah satu teman se-geng dikuliah, yang sudah tahu buruk baiknya saya, dan saya bisa percaya untuk share ketakutan-ketakutan saya tanpa merasa di-judge. K (inisial partner kerja saya) if you read this, I want to say thank you for everything. 

Saya bersyukur untuk teman-teman dekat saya yang mendukung saya dalam keadaan apapun, bahkan jadi penguat saya ketika saya jatuh, untuk KTB saya (Ana, Grace, Erin, dan Tresia), terima kasih :). Saya juga bersyukur untuk seseorang yang selalu ada di kapan pun saya mau curhat dan juga tidak pernah men-judge saya, you know who you are, saya hanya bisa mendoakan kebahagiaanmu selalu, thank you for everything! Saya bersyukur juga untuk keluarga saya yang sudah mulai mengerti kondisi saya dan masih tetap merawat dan juga tidak mengurangi kasih mereka terhadap saya.

Saya berterima kasih untuk teman-teman yang sudah memesan melalui colourpalette, saya sangat menghargainya. Saya juga berterima kasih untuk beberapa teman yang mendukung saya dalam menulis blog dan belajar make up, butuh keberanian dan kepercayaan diri untuk melanjutkan semua ini, semua hal yang awalnya sempat saya lupakan dan saya lanjutkan lagi.

Saya berterima kasih untuk yang pembaca blog saya, bahkan yang juga mengontak saya secara personal serta membagikan cerita mereka, saya sangat menghargainya :), karena dari kalian-lah saya jadi tahu bahwa tulisan saya bisa bermamfaat bagi orang lain.

Saya juga berterima kasih untuk orang-orang yang juga telah mengecewakan saya, menyakiti saya atau yang memandang saya sebelah mata, sadar tidak sadar mereka yang mengajarkan saya untuk tetap baik kepada orang lain karena semakin hari orang baik semakin langkah :p. Jika saya tidak disakiti, maka saya akan terus-terus-an naif, terima kasih telah membantu melahirkan versi terkuat saya dan juga membuat saya waspada dan tidak terlalu cepat mempercayai orang lain :).

Kita tidak bisa melihat masa depan, kita tidak tahu tahun ini akan jadi seperti apa. Apakah akan lebih baik? Apakah akan lebih buruk? Saya hanya tahu satu hal yaitu terus berjalan, terus melangkah, terus maju karena tidak ada apapun yang sudah ditinggalkan akan kembali lagi dan percayalah ada Tangan Sang Mahakuasa yang sedang mengarahkan, meski kadang kita tidak sadar. Semua akan berubah, begitu pula dengan kita 🙂

Terus berjalan, terus melangkah, terus maju karena tidak ada apapun yang sudah ditinggalkan akan kembali lagi dan percayalah ada Tangan Sang Mahakuasa yang sedang mengarahkan dan menopang kita, meski kadang kita tidak menyadarinya.

Happy New Year 2016! Keep Moving Forward Dear!

new2016
illustration by @blueskyandme.wordpress.com/@monalisadeborah
Advertisements

25TH MY LIFE JOURNEY

Tidak terasa saya sudah berusia 25 tahun alias seperempat abad padahal saya masih merasa belum sepenuhnya dewasa secara pikiran terutama. Banyak hal sudah terjadi di dalam hidup saya, dan saya berubah, saya berkembang dan hal itu wajar bagi seorang individu. Dua tahun dalam perjalanan lepas dari Universitas merupakan perjalanan yang susah dan penempaan yang hebat bagi saya secara pribadi, saya baru pertama kalinya merasakan “jalan sendiri” secara individual tidak ada lagi teman se-geng atau teman sekelompok yang bisa diajak bersama-sama hampir setiap waktu ketika kuliah, dan saya yakin bukan hanya saya yang merasakan perubahan ini. Saya juga merasakan jatuh bangun mencari apa yang orang bilang “passion” yang saya lebih suka mengatakannya sebagai “panggilan” dan masih banyak lagi termasuk perubahan pandangan tentang kehidupan asmara. So here is my list about my 25th life journey!

1. I am important.

My anxieties, my thoughts, my feelings and my dreams are important even when other people don’t think so. I am important in this hectic and busy generation which tends to be ignorant about anything except their own interests.

2. I have my own standard of success and happiness.

I don’t delude myself to be good enough and live up to other people’s definition of success and happiness. I have my own J now.

3. My insecurities are what shapes me.

My insecurities are the things that shapes and makes me into what i am. I should accept that as a part of my life even when other people don’t.

4. It’s harder to forgive people when I am all grown up

All failures and dissapointments left deep scars on me. Broken heart is one of them, and it left deeper scars than the ones i experienced when I was younger. I’m still anxious about forgiving myself and the people who have hurt me. We can give forgiveness but not give all of our trust again, trust is earned.

5. I learn to be patient against hard headed people.

I always remember that adults are childrens who survived, they have their own battles even when we don’t really see them.

6. I don’t wait anymore.

I don’t wait for people, i don’t wait for opportunities, I make my own now, I don’t wait for life to give me a cupcake for the moment, cause every moment, good or bad, are still a part of me, part of my life. I don’t wait for the best love story in my life and I don’t care about what society tells me even when i’m not with a man. I’m totally complete with or without him, I fight my own demons as long as I live.

7. People come, go, and change, so will i

There are some people who will leave us, and they’re the same people who stayed with us during our darkest and brightest moments, and that’s okay, change is a part of life, part of growing up. I relish those who stay, they are my diamonds.

8. I learn to collect moments and secrets in private.

I don’t always share a lot of happy or sad moments, Those are private things to me now. There are some moment that are really precious that we don’t want to share to the public and there are some sad moments that we want to keep to ourself or just to some close friends. Everybody doesn’t have to know about everything, the most important thing is that you know yourself enough.

9. A heart to listen is rare in this busy generation

We are a part of a busy generation now and it’s hard to find someone with a kind heart to listen. I always respect the ones that likes to share their problems and their life to me, because that inspires me too. I also respect the ones that lend their ears and heart to listen about my problem.

10. Everything is temporary, be careful with “too much”

People, relationships, work, money, and life are temporary things that we will take responsibilities for when we are dead. Everything that is too much will hurt to much too. We just have to be wise and sensible with those temporary things. We don’t bring anything and we leave without bringing something too.

11. Live in the present

Living in the past will make you guilty, and thinking about the future will give you anxieties. Live in the present with what we have and what we do, live in the NOW.

12. Don’t corrupt the definition of life

Life is not just about passion, work, ambitions, goals, scholarships and other prominent things. The small things are a part of life too, hang out with friends, me time, dinner with family, holiday and etc. Life is complex, life is many things, don’t corrupt the definition of life.

13. There are times to be active, and there are times to be passive

Sometimes life gives you nothing so you have to start with what you have. Sometimes life gives you everything so you have to be wise to use it. Sometimes life leads you directly but sometimes you have to lead your life and find your purpose.

14. If I fail, I try again

I should stay true to myself, failure is not a big thing but it’s hard in this perfect wannabe generation. We are not a perfect creature, and life itself is not perfect, so it’s okay to fail, let’s try again tommorrow.

15. When you break, the stonger version of you will be born

When an egg cracks, a little chick is born. For me, when life breaks me, a stronger version of me will be born too.

16. Train yourself not only to be pretty, but also be baddass and a fighter!

I train myself to not only be pretty but to be badass, cause we know life is a real battle, we have to fight the bad stuff.

17. Friend is not a number anymore, its about who stays during our brightest and darkest moment.

18. The one that you should ask for directions the most are your Creator and yourself.

19. I am not a perfect worker, I am the “I will try to be better worker”

20. I learn to say No and not feel guilty about it, I am not alway the YES girl.

21. I learn to be grateful about everything even during the bad days.

22. I take pride in everything that I do, I learn to appreciate my own work.

23. It’s okay to tell and say what you feel, we don’t know how much time we have left.

24. I learn not to be hard on myself or the inner child inside me.

25. I learn not to stay in bad relationships with people and not feel guilty about it anymore.

HAPPY 25TH MYSELF!

little mo birthday.jpg
happy birthday little me! by @blueskyandme.wordpress.com

About Knowing and Loving Yourself

Sebelum mau tidur, entah kenapa saya tiba-tiba pengen banget nulis. Mood untuk menulis memang kadang susah untuk dimunculkan tapi kalo udah muncul, rasanya pengen banget nulis kayak curhat ke orang, rasanya pengen banget curhat ke temen terdekat jika ada kejadian tertentu yang seru untuk di ceritakan.

Akhir-akhir ini saya jujur sangat berhati-hati untuk masalah yang sangat pribadi jika diceritakan ke orang karena ada beberapa kejadian yang membuat saya trauma terkait tentang hal ini yang terjadi di masa lalu. Saya juga jadi agak susah untuk percaya orang baru.

Blog ini sendiri bagi saya merupakan tempat mencurahkan isi hati dan juga tentang sharing banyak hal ke orang lain, tetapi sharing juga tetap pada tempatnya dan tetap melindungi privasi dari saya sendiri.

Saya ingin cerita tentang “mencintai diri sendiri”. Kenapa hal ini jadi penting bagi saya? Saya berpendapat mencintai diri sendiri adalah pekerjaan seumur hidup bukan hanya bagi saya tetapi bagi semua orang. Kita bisa on off untuk membangun relasi dengan pacar atau teman dekat tetapi kita tidak bisa on off  dalam membangun relasi dengan diri sendiri. Alasan lainnya mengapa ini penting karena di dalam hidup akan ada good day dimana semua orang menyenangi diri kita, kita berhasil dalam apa yang kita kerjakan, tetapi juga ada bad day dimana kita gagal, orang-orang menganggap rendah kita dan bahkan membanding-bandingkan kita.

Banyak yang bilang ketika bad day itu datang kita harus semangat lagi, harus positif lagi, harus tidak mendengarkan komentar buruk dari orang-orang. Saya tidak menyalahkan semua itu, semua itu nasehat yang baik tetapi susah. Ada yang bisa ketawa tanpa beban setelah mata kuliahnya tidak lulus? Ada yang bisa ketawa-ketawa aja setelah habis meeting dan dapat kritikan pedas tentang apa yang dikerjakan? Mungkin keliatannya aja ada yang tegar tetapi di dalam hati siapa yang tau. Manusia selalu merespon akan apa yang terjadi, dihina kita menjadi marah, dipuji kita menjadi senang dan sebagainya, bahkan alam bawah sadar kita menyerap respon lingkungan tanpa kita sadari.

Saya sangat memperhatikan “mencintai diri sendiri” ketika saya tersesat dengan masalah kecemasan berlebih dan berbagai masalah pribadi yang tidak saya share secara frontal di blog ini. Banyak “bad day” yang saya alami yang membuat orang-orang di sekitar saya berubah pandangan dan bahkan saya sendiri tanpa sadar menyalahkan dan berpandangan buruk terhadap diri sendiri.

Saya punya seorang teman dekat, namanya Grace, I adore this girl bukan hanya karena talenta dia dengan melukis tetapi dia selalu berusaha mengenali dirinya sendiri, dimana saya sendiri berkali kali gagal mengenali diri saya sendiri. Grace bisa tahu jika dia tidak suka dengan sesuatu, dia suka ini ini dan ini..kegiatan yang ini bukan dia banget. Sedangkan saya masih dalam masa kebingungan di dalam hidup dan saya yakin saya tidak sendiri karena yang lain juga dalam proses menemukan jalannya sendiri secara spesifik.

love yourself
love yourself

Your past bring you a clue, knowing yourself is an act of loving yourself

Saya yakin bahwa semua orang sangat berbeda secara spesifik, sehingga pendapat saya tentang sesuatu tidak akan sama dengan orang lain. Apa yang menarik bagi saya belum tentu menarik bagi orang lain dan begitu pula sebaliknya. Saya liat kembali apa yang saya suka, apa yang membuat saya tertarik, apa kegiatan yang saya sering banget lakukan di saat saya kecil, bahkan saya sempat melihat buku report taman kanak-kanak saya dibanding report waktu saya sd, smp dll.

Kalo ada yang bisa liat report TK, itu bukan tentang mata pelajaran dan nilai and that’s it. Report TK adalah rincian keterangan proses belajar anak ini menguasai apa, atau keterangan tentang apa yang anak ini kurang mengerti, misalnya anak ini tidak terlalu kurang bisa berpikir secara 3 dimensi. Saya suka menggambar, saya bisa menghabiskan waktu berimajinasi dan menggambar tetapi semenjak sd dan selanjutnya saya tidak melanjutkan kegiatan menggambar lagi karena sibuk belajar. Sekarang saya melanjutkan lagi kegiatan ini sebagai terapi pribadi, hobi pribadi ataupun jika ada pesanan gambar.

Saya juga mulai mengenali bahwa dari kecil saya gampang alergi makanan tertentu, gampang stress dengan kondisi kondisi tertentu dan sebagainya. Mengenal diri adalah bentuk mencintai diri kita, bagaimana kita bisa memberikan yang terbaik bagi diri jika kita susah mengenali diri kita?. Mengenal diri pun pekerjaan seumur hidup karena kita bisa berubah sesuai dengan perjalanan hidup masing-masing.

Need an effort to love yourself and staying in love with yourself, make it as a habit.

Mencintai butuh usaha dan butuh usaha juga untuk tetap mencintai diri kita sendiri. Saya sendiri berusaha menjadikan hal tersebut menjadi kebiasaan. Saya merubah cara pandang saya dengan diri saya sendiri dan hal itu juga membuat saya merubah kebiasaan hidup serta cara saya memperlakukan diri sendiri.

Tubuh saya adalah bagian penting dari diri saya, tubuh saya hanya satu, dan itu harus dijaga. Usaha saya menjaga tubuh saya adalah bagian dari upaya saya mencintai diri saya. Saya mulai memperhatikan rambut saya yang rusak serta kering, saya mulai mencari perawatan yang cocok agar rambut saya sehat. Kulit saya sangat sensitif bahkan saya baru sadar kalo saya alergi dengan beberapa sabun, awalnya jika gatal di kulit saya lebih cenderung cuek dan kadang saja kasih bedak gatal dan selesai, sekarang saya lebih memperhatikan sabun yang saya beli dan perawatan wajah yang saya pakai.

Saya juga memperhatikan makanan apa yang saya makan, dan ini sulit karena saya sering tergoda dengan makanan yang tidak bergizi tetapi enak alljunkfoodisdelicious. Saya juga mulai memperhatikan apa yang keluar dari badan saya, lancarkah apa yang masuk dengan yang keluar dan itu penting karena jika yang keluar tidak lancar maka hal itu ada hubungannya dengan habit kita yang buruk dan apa yang kita makan/minum yang tidak sehat.

Pola tidur pun juga jadi perhatian saya dimana saya suka insomnia dan juga kadang saya harus lembur jika ada kerjaan yang mendadak. Kalo kata salah satu senior saya “Tuhan kasih 24 jam dalam satu hari pasti ada maksudnya kan.” Saya juga berpikir hal yang sama bahwa Tuhan menciptakan ada siang dan malam juga sebagai penanda kapan manusia bisa bekerja, kapan manusia harus berhenti bekerja dan beristirahat. Saya belajar gaya hidup yang sehat adalah upaya kita mencintai diri sendiri. Bahkan ketika saya berdandan dan memakai baju bagus pun itu adalah bentuk saya memberikan diri saya sendiri penampilan terbaik.

My thought and feeling are part of me too, I should more concern about them.

Pendapat saya, pemikiran saya, dan perasaan saya adalah hal penting bagi saya meskipun hal itu tidak penting bagi orang lain. Saya belajar bahwa menyadari hal ini adalah penting mengingat sangat susah meyakinkan diri saya tentang prinsip ini di lingkungan yang kadang tidak menganggap hal itu penting. Sayalah yang perlu menjaga dan mengemukakan pemikiran saya meskipun hal itu tidak disetujui oleh banyak orang, semua orang boleh berpendapat tetapi kembali lagi semua keputusan di dalam hidup kita adalah pure keputusan kita.

Perasaan bangga, bahagia dan bahkan perasaan sedih adalah hal-hal yang saya hargai. Saya terkadang risih dengan orang yang ketika orang lain sedang curhat tentang masalahnya, dia lebih cepat mengambil waktu untuk men-judge dan mengomentari dibandingkan menyediakan telinga dan hati untuk mendengarkan. Perasaan sedih juga penting, kalo ada yang sudah nonton film anak berjudul INSIDE OUT pasti lebih mengerti mengapa perasaan sedih pun penting. Tuhan punya maksud dalam setiap emosi dan perasaan kita, bahkan kesedihan pun membawa anugerahnya sendiri.

Saya selalu suka menanyakan pendapat orang lain tentang diri saya dan menanyakan pendapat mereka tentang keputusan saya. Itu baik, saya tidak bilang itu tidak baik tetapi alangkah lebih baik menanyakan ke diri sendiri apa yang baik untuk diri kita, karena pendapat orang akan sangat berbeda dan bervariasi, too many opinions will make you confused and sometimes blur your real decision. I stop to ask people and start to ask myself what I really want. Menghargai pemikiran dan perasaan saya adalah bentuk saya mencintai diri saya sendiri.

Bentuk saya mencintai diri sendiri juga dengan berhati-hati terhadap toxic friend atau toxic friendship. Berhak mendapatkan relasi yang sehat dengan orang-orang yang memberikan saya pengaruh positif itu juga salah satu bentuk saya mencintai dan menghargai diri saya. I rather be alone but hear my own voice and find myself than be with a lot of people but being not heard and losing myself.

Forgive yourself, learn from your mistakes and start to love yourself again

Terkadang kegagalan dan kejadian di masa lalu banyak membuat kita sering menyalahkan diri kita sendiri. Padahal belum tentu kegagalan itu sepenuhnya kesalahan kita dan salah tentu adalah hal yang manusiawi. Memaafkan diri sendiri jadi bagian dari apa yang saya sebut mencintai diri dan jujur hal ini masih jd bagian yang susah untuk saya lakukan. I often blame myself, and it’s hard to love myself again. Saya pun masih jatuh bangun dalam mencintai diri saya.

Knowing and Loving yourself is a long life journey, jadi pasti akan ada jatuh bangunnya. Don’t stop to love yourself, karena mencintai diri kita sendiri adalah dasar bagi kita juga untuk bisa mencintai orang lain dan tentunya relationship dengan diri sendiri adalah hubungan yang paling vital yang kita punya selama kita hidup :).

love yourself more
love yourself more

Be kind to people but remember to always keep your inner circle

Akhirnya bisa nulis lagi yippie! Kali ini adalah perenungan curhat colongan sejenak dari apa yang saya sendiri lalui di dunia alumni *berasa udah lama banget kayaknya jd alumni pdhl baru dua tahunan. Jujur saya sendiri merasa dunia alumni itu dunia yang chaos banget *welcome to the world non!, jangan berpikir ini seperti penampakan film-film yang kerja digambarkan jadi hal menyenangkan dan semua terlihat baik-baik saja.

Setelah menimba ilmu di salah satu Universitas Indonesia di Depok tepatnya, akhirnya saya dan teman seangkatan yang lain di lepas ke dunia alumni untuk mencari ilmu dan sesuap nasi. Apa yang saya alami mungkin tidak di alami semua orang, ada yang langsung beradaptasi, ada yang susah beradaptasi, ada yang lebih cerdik lagi untuk membuka usahanya sendiri daripada harus bekerja dengan orang lain *tipe yang ini patut diteladani. Saya sendiri termasuk tipe yang lambat belajar dan beradaptasi. Pengalaman saya sejak di dunia kerja dari dunia kampus itu berasa ada fase yang terlewati entah itu apa atau memang saya memang belum matang tetapi seperti kata-kata salah seorang teman dekat saya yang bilang

Kalau sudah tercebur yaudah berenang”..berenanglah untuk ‘selamat’ kalau tidak ya kamu tenggelam

Adaptasi dengan lingkungan kerja juga jadi jadi proses tersendiri, saya adalah orang yang suka berteman dengan siapa saja tetapi pemilih untuk masalah teman dekat atau sahabat karib. Dunia baru akan membawa anugerah berupa teman-teman baru, itu apa yang dipikiran saya selama ini, ternyata ada salahnya ada benarnya juga dan memang tidak ada yang salah dan benar *nah lhoo.

Dunia pekerjaan itu sibuk, harus pergi pagi pulang malam, menghabiskan waktu di jalan dimana jalanan Jakarta belum bersahabat sepertinya. Saya sendiri sempat stress dengan kerjaan dan juga banyak hal yang berupa benturan-benturan di dunia baru ini, belum lagi masalah lain seperti jodoh *derita wanita muda yang masih jomblo dan intervensi keinginan orang tua dalam karir dan hal lain.

Saya sempat balik ke kampus untuk beberapa urusan dan akhirnya bertemu serta berbincang-bincang dengan salah satu dosen yang beberapa kali mengajar di angkatan, meskipun saya sendiri tidak punya dosen yang dekat dengan saya selama kuliah tetapi dosen yang satu ini adalah dosen yang saya tahu saya bisa banyak bertanya dan meminta nasehat dari beliau. Kami berbincang banyak tentang pekerjaan, dan bagaimana teman-teman se-geng saya sendiri waktu kuliah menemukan jalannya masing-masing dalam karir mereka sekarang, dan seketika wajah dosen tersebut tampak begitu senang mendengarkan cerita saya. Banyak hal pertimbangan juga yang dosen saya utarakan demi diri saya sendiri, dan masalah pribadi yang saya sharingkan kepadanya, sampai curhat colongan saya tentang betapa susahnya saya beradaptasi di dunia pekerjaan dan kehidupan sosial saya yang menurun.

Bu R *dosen saya menganjurkan saya untuk mulai liburan, dan mulai memamfaatkan waktu-waktu luang serta menekankan saya untuk berusaha bertemu dengan teman-teman dekat saya. Saya sendiri sempat bilang kalau beberapa teman angkatan juga ada di lingkungan pekerjaan saya tetapi apa yang di tekankan Bu R selanjutnya agak membuat pikiran saya terbuka,

“maksud saya itu teman-teman dekat kamu, sahabat-sahabat yang menerima kamu baik buruknya”

Bu R menyudahi kalimatnya. Saya baru sadar kalau saya sering komunikasi dengan beberapa teman dekat tapi sama sekali jarang merencanakan untuk “spent time” atau bertemu muka. Setelah pertemuan hari itu dengan Bu R, saya langsung menghubungi teman-teman dekat, sahabat karib, dan teman se-geng kuliah untuk atur jadwal tatap muka..hehehehe.

Akhirnya jadwal ketemuan pun penuh bahkan senior waktu kuliah menyempatkan di sela waktu cuti dia ke Jakarta untuk bertemu dan jalan-jalan sambil shoping-shoping cantik..hehehe. Ada yang menelpon juga dan pada akhirnya kami ngobrol dan nge-gosip panjang lebar di telepon sebelum akhirnya atur jadwal bertemu. Sejauh ini energi dari diri sendiri bertambah-tambah dan makin semangat dalam menjalani hidup. Nasehatnya Bu R ternyata benar, teman dekat saya jadi penghiburan untuk saya sendiri, mereka menerima saya baik buruknya, it’s like coming home 🙂. Saya jadi tidak terlalu mengikat diri pada lingkungan pergaulan yang memang tidak cocok dan lebih memperhatikan inner circle yang saya punya.  Apa itu inner circle? inner circle dalam pengertian saya sendiri itu lingkaran terpenting yang mempengaruhi saya paling besar entah dari keluarga atau sahabat-sahabat saya.

Why we have to keep our inner circle?

Sama seperti jodoh, teman yang cocok pun sesuatu yang berharga, kita ngak bisa cocok dengan semua orang dan faktanya kita tidak harus cocok dengan semua orang dan tidak semua orang bisa menerima kita dan punya kesamaan nilai dengan kita so be wise when you put someone to your inner circle not everybody worth as they seem. Sahabat-sahabat saya sendiri bukan berarti mereka yang selalu akur tetapi mereka tahu bagaimana menegur, membangkitkan semangat saya disaat hilang harapan dan satu lagi mereka selalu memberi dampak positif serta membuat diri saya nyaman.

Bukannya saya mengajarkan untuk ekslusif dan antisosial tetapi kita pastinya punya lingkaran-lingkaran dengan taraf kepentingan berbeda-beda, dan tidak semua orang bisa masuk dan tidak semua orang harus masuk ke lingkaran penting kita. Hubungan saya ibaratkan dengan rumah dimana orang yang di dalamnya harus berusaha saling menjaga dan berkompromi agar bisa rukun tinggal bersama. Terjebak di hubungan pertemanan yang toxic adalah ibarat mengundang seseorang masuk ke dalam rumah dan menghancurkan rumah tersebut dan kemudian menghancurkan kita. We should respect our home, our healthy relationship with people karena jika tidak, kita hanya akan merusak diri dan membodohi diri kita sendiri.

Setelah bertemu dengan jadwal pertemuan yang lumayan banyak, kebetulan inner circle saya sendiri lumayan banyak, I know that I’m very lucky person, karena mereka semua selalu menyempatkan waktu dan menerima dalam kondisi baik dan buruk. Mulai dari sekarang dan seterusnya I will be kind to people but remember to always keep my inner circle! and thanks Mrs R for nice advice! 

Lots of people want to ride with you in the limo, but what you want is someone who will take the bus with you when the limo breaks down. – Oprah Winfrey

25db99a57b493c6fa5060380d4303fc5
know your circle!

sumber gambar : https://www.pinterest.com/dapcat/quotes/

Pieces of Heart and Me

Akhir-akhir ini saya sedang memikir tentang “broken heart” dan “a way to heal it”. Sebenarnya patah hati dialami semua orang tapi ketika kita berhadapan dengan penyakit yang satu ini banyak dari kita mau tidak mau menangis atau sedih bahkan sampai trauma dan sebagainya.

Banyak yang bilang, “Jatuh cinta hanya patah hati yang tertunda”. Saya lumayan setuju dengan kalimat ini, karena tidak semua cinta terbalas atau ada juga yang terjebak dengan “friendzone”. But, that’s life, unpredictable, kita tidak bisa memprediksi apa yang terjadi ke depannya.

Ada banyak hal di dunia ini yg berada di luar kontrol kita,
kita harus belajar menerimanya.

Ini kalimat yang keluar dari salah satu senior saya waktu saya cerita bahwa saya sedang mengalami patah hati. Kalimt ini cukup menyadarkan sejenak diri saya yang sedang mellow dan sedih supaya mulai berpikir jernih sesuai kenyataan.

Terkadang jika sedang patah hati, kita merasa dunia itu sempit, kita sedih terpuruk tetapi berpura-pura normal jika sedang bersama orang lain, kita berpura pura baik-baik saja padahal didalamnya hati kita hancur berkeping-keping.

Butuh sekejap untuk menghancurkan sebuah hati tapi butuh waktu lama untuk menyembuhkannya.

Meskipun luka itu benar-benar sembuh, meskipun kita sudah tidak mempermasalahkan lagi hal itu dan melanjutkan hidup, semua memori sakit itu masih tersimpan di otak kita.

Saya terkesan ketika menonton Tv, mungkin ada beberapa yang tau tentang Mobbed, acara Tv yang saya tonton dan kebetulan tentang seorang wanita yang menyatakan cinta kepada si pria dan akhirnya si pria menjawab bahwa Ia hanya menganggap si wanita sebagai seorang yang spesial, teman yang dekat tapi tidak memiliki perasaan yang sama. Di akhir acara tersebut si wanita akhirnya mengatakan kalimat ini,

Awalnya semua ini tentang dia, tapi pada akhirnya semua ini
tentang aku, bagaimana seharusnya aku lebih berpikir tentang diriku.

Semua pelajaran patah hati yang saya alami akhirnya membawa saya ke
pertanyaan itu

Apakah ini semua tentang dia?

Memang akan sulit punya pikiran sehat disaat kita jatuh cinta, akan sangat memabukkan, dan membuat kita tidak berpikir rasional tetapi pada akhirnya kita harus bertanya,

Apakah ini yang terbaik untuk diri kita sendiri?

Banyak proses yang dilalui setiap orang untuk sembuh dari patah hati. Saya ketika sedang patah hati bisa sedih berhari-hari, saya langsung merencanakan banyak hal baru untuk dijalani, melakukan liburan mungkin jadi salah satu ide yang baik. Kita bisa menghabiskan waktu bersama sahabat-sahabat kita untuk pergi.

Ketika saya liburan panjang setelah pasca patah hati, waktu itu saya magang sekalian berlibur di Bali, yang saya rasakan itu dunia begitu besar, lebih besar dari yang saya kira begitu berbeda saat saya cuma bisa bersedih di kamar dan ternyata patah hati hanya bagian kecil dari diri saya dibandingkan dunia yang begitu besar.

“Patah hati hanya bagian dari hidup, bertahan, kita pasti akan melewatinya”

keep moving forward 🙂

Image

“We must be willing to let go of the life we have planned,
so as to accept the life that is waiting for us.”
~ Joseph Campbell

Keset dan Sepatu

welcomeshoes1
image source :http://rampages.us/ole/

Ahh..sudah lama saya tidak menulis blog..>.

bingung harus senang atau tidak, karena dosen ini termasuk yang standardnya tinggi dan jujur saya agak kurang cocok dan mengerti apa yang diajarkan, mungkin karena beliau ilmunya sudah tinggi sedangkan saya masih kurang berilmu.

Hari ini tepatnya pada tanggal 3 Desember 2011 adalah hari yang sudah saya tunggu-tunggu karena pada tanggal tersebut usia saya bertambah. Ada angka 1 di belakang angka 2 pertama, yang saya juga bingung harus sedih atau senang, rasanya makin tua, tetapi jiwa saya masih seperti gadis berumur 18 tahun sok muda :p.

Selama 21 tahun banyak hal yang sudah saya lalukan, setiap proses dalam hidup saya semuanya membentuk saya menjadi MONA yang seperti sekarang, saya ingat kalau dulu saya adalah anak yang penakut, saya selalu menjadi orang yang tidak terlihat.

Saya teringat perkataan salah satu teman saya, waktu kami berada di semester pertama kuliah ketika dia mempresentasikan lukisannya. Teman saya ini menggambar keset dan sepatu, dia cerita kalau dulu dia lebih sering jadi keset yang diinjak orang namun sekarang dia sudah tidak mau jadi keset lagi. Dia sudah berubah menjadi sepatu yang terlihat.

Masa-masa “menjadi keset” telah menghiasi hidup saya dari dulu. Saya bukan orang yang dominan bahkan saya susah mengutarakan keinginan saya dan pendapat saya, bahkan di lingkungan rumah saya tidak cukup di dengar. Saya sering menurut apa kata orang tua saya, saya bukan mengajarkan untuk membantah orang tua tetapi jika kita hanya menurut dan tidak punya tujuan sendiri serta keinginan sendiri bukankah kita sama saja dengan robot atau boneka? Saya seperti orang yang tidak punya tujuan saya sendiri. Semakin lama kita menjadi keset maka semakin lama kita jadi nyaman menjadi keset dan semakin terbiasa kita untuk diinjak.

Tanpa sadar saya terbiasa menjadi keset, terbiasa tidak terlihat dan semakin terbiasa diinjak orang, saya tidak sadar bahwa hal itu adalah kenyataan yang menyedihkan.

Proses dari keset untuk jadi sepatu tidak mudah karena orang lain sudah terbiasa menjadikanmu KESET. Banyaknya sepatu yang sudah menginjakmu membuatmu makin menyakini bahwa kamu memang KESET.

Saya harus berjuang untuk jadi sepatu, berjuang agar orang tidak menganggap saya keset. Berjuang agar orang bisa melihat saya adalah SEPATU dan tentunya SEPATU yang berbeda dari yang lain.

Seperti itulah yang saya alami sampai umur saya yang ke 21, dari seorang gadis yang selalu menunduk ketika berbicara di depan kelas menjadi gadis yang menatap lurus ketika berbicara di depan umum, dari seorang gadis yang selalu bergantung kepada orang lain menjadi gadis yang berusaha mandiri.

Dari seorang gadis kecil yang biasa diinjak-injak menjadi seorang gadis dewasa yang tidak akan membiarkan seseorang pun menginjak-injaknya. Dari seorang gadis yang penakut menjadi seorang gadis yang cukup untuk sekali saja menangis sekali ketika ia gagal dan besoknya ia akan memulai semuanya dari awal.

Semua proses dalam hidup yang ditulis tangan agungNya-lah yang membuat saya menjadi seperti ini. Tuhan mengubah saya yang “sebuah keset” menjadi “sebuah sepatu” meski banyak sekali proses yang menyakitkan tapi akhirnya semua itu membuat saya bersyukur, karena semua proses itu menjadikan saya gadis yang kuat seperti sekarang.

Di sore hari pada hari ulang tahun ini saya sendirian di kosan. Saya sengaja tidak menyicil tugas di hari ini. Hadiah terbaik yang bisa saya berikan untuk diri saya saat ini adalah satu hari bebas tanpa beban dan pikiran, Saya akan menikmati hari ini, hari ini dimana Tuhan mengirim saya ke bumi.

Ada satu kabar gembira lagi, saya sudah sembuh, pengobatannya berhasil dan sekarang saya tidak harus minum obat tiap hari lagi, praise The Lord!

Special thanks for my friend, Martina Ratnasari, untuk lukisan keset dan sepatu yang bermakna begitu dalam, sayang saya lupa memfoto lukisannya padahal lukisannya sangat bagus. Happy Birthday for me! God bless you all 🙂 !

Begitu banyak orang yang merasa dirinya hanyalah sebuah keset karena sudah begitu banyak pula orang lain yang menginjaknya. Keputusan untuk menjadi sepatu adalah keputusan pribadi bukan keputusan orang lain terhadap kita. Semua orang adalah sepatu dari awalnya dan mungkin mereka hanya butuh waktu untuk menemukan sepatu mereka di saat sepatu-sepatu lain terbiasa untuk menginjak mereka. -Monalisa D