Be kind to people but remember to always keep your inner circle

Akhirnya bisa nulis lagi yippie! Kali ini adalah perenungan curhat colongan sejenak dari apa yang saya sendiri lalui di dunia alumni *berasa udah lama banget kayaknya jd alumni pdhl baru dua tahunan. Jujur saya sendiri merasa dunia alumni itu dunia yang chaos banget *welcome to the world non!, jangan berpikir ini seperti penampakan film-film yang kerja digambarkan jadi hal menyenangkan dan semua terlihat baik-baik saja.

Setelah menimba ilmu di salah satu Universitas Indonesia di Depok tepatnya, akhirnya saya dan teman seangkatan yang lain di lepas ke dunia alumni untuk mencari ilmu dan sesuap nasi. Apa yang saya alami mungkin tidak di alami semua orang, ada yang langsung beradaptasi, ada yang susah beradaptasi, ada yang lebih cerdik lagi untuk membuka usahanya sendiri daripada harus bekerja dengan orang lain *tipe yang ini patut diteladani. Saya sendiri termasuk tipe yang lambat belajar dan beradaptasi. Pengalaman saya sejak di dunia kerja dari dunia kampus itu berasa ada fase yang terlewati entah itu apa atau memang saya memang belum matang tetapi seperti kata-kata salah seorang teman dekat saya yang bilang

Kalau sudah tercebur yaudah berenang”..berenanglah untuk ‘selamat’ kalau tidak ya kamu tenggelam

Adaptasi dengan lingkungan kerja juga jadi jadi proses tersendiri, saya adalah orang yang suka berteman dengan siapa saja tetapi pemilih untuk masalah teman dekat atau sahabat karib. Dunia baru akan membawa anugerah berupa teman-teman baru, itu apa yang dipikiran saya selama ini, ternyata ada salahnya ada benarnya juga dan memang tidak ada yang salah dan benar *nah lhoo.

Dunia pekerjaan itu sibuk, harus pergi pagi pulang malam, menghabiskan waktu di jalan dimana jalanan Jakarta belum bersahabat sepertinya. Saya sendiri sempat stress dengan kerjaan dan juga banyak hal yang berupa benturan-benturan di dunia baru ini, belum lagi masalah lain seperti jodoh *derita wanita muda yang masih jomblo dan intervensi keinginan orang tua dalam karir dan hal lain.

Saya sempat balik ke kampus untuk beberapa urusan dan akhirnya bertemu serta berbincang-bincang dengan salah satu dosen yang beberapa kali mengajar di angkatan, meskipun saya sendiri tidak punya dosen yang dekat dengan saya selama kuliah tetapi dosen yang satu ini adalah dosen yang saya tahu saya bisa banyak bertanya dan meminta nasehat dari beliau. Kami berbincang banyak tentang pekerjaan, dan bagaimana teman-teman se-geng saya sendiri waktu kuliah menemukan jalannya masing-masing dalam karir mereka sekarang, dan seketika wajah dosen tersebut tampak begitu senang mendengarkan cerita saya. Banyak hal pertimbangan juga yang dosen saya utarakan demi diri saya sendiri, dan masalah pribadi yang saya sharingkan kepadanya, sampai curhat colongan saya tentang betapa susahnya saya beradaptasi di dunia pekerjaan dan kehidupan sosial saya yang menurun.

Bu R *dosen saya menganjurkan saya untuk mulai liburan, dan mulai memamfaatkan waktu-waktu luang serta menekankan saya untuk berusaha bertemu dengan teman-teman dekat saya. Saya sendiri sempat bilang kalau beberapa teman angkatan juga ada di lingkungan pekerjaan saya tetapi apa yang di tekankan Bu R selanjutnya agak membuat pikiran saya terbuka,

“maksud saya itu teman-teman dekat kamu, sahabat-sahabat yang menerima kamu baik buruknya”

Bu R menyudahi kalimatnya. Saya baru sadar kalau saya sering komunikasi dengan beberapa teman dekat tapi sama sekali jarang merencanakan untuk “spent time” atau bertemu muka. Setelah pertemuan hari itu dengan Bu R, saya langsung menghubungi teman-teman dekat, sahabat karib, dan teman se-geng kuliah untuk atur jadwal tatap muka..hehehehe.

Akhirnya jadwal ketemuan pun penuh bahkan senior waktu kuliah menyempatkan di sela waktu cuti dia ke Jakarta untuk bertemu dan jalan-jalan sambil shoping-shoping cantik..hehehe. Ada yang menelpon juga dan pada akhirnya kami ngobrol dan nge-gosip panjang lebar di telepon sebelum akhirnya atur jadwal bertemu. Sejauh ini energi dari diri sendiri bertambah-tambah dan makin semangat dalam menjalani hidup. Nasehatnya Bu R ternyata benar, teman dekat saya jadi penghiburan untuk saya sendiri, mereka menerima saya baik buruknya, it’s like coming home 🙂. Saya jadi tidak terlalu mengikat diri pada lingkungan pergaulan yang memang tidak cocok dan lebih memperhatikan inner circle yang saya punya.  Apa itu inner circle? inner circle dalam pengertian saya sendiri itu lingkaran terpenting yang mempengaruhi saya paling besar entah dari keluarga atau sahabat-sahabat saya.

Why we have to keep our inner circle?

Sama seperti jodoh, teman yang cocok pun sesuatu yang berharga, kita ngak bisa cocok dengan semua orang dan faktanya kita tidak harus cocok dengan semua orang dan tidak semua orang bisa menerima kita dan punya kesamaan nilai dengan kita so be wise when you put someone to your inner circle not everybody worth as they seem. Sahabat-sahabat saya sendiri bukan berarti mereka yang selalu akur tetapi mereka tahu bagaimana menegur, membangkitkan semangat saya disaat hilang harapan dan satu lagi mereka selalu memberi dampak positif serta membuat diri saya nyaman.

Bukannya saya mengajarkan untuk ekslusif dan antisosial tetapi kita pastinya punya lingkaran-lingkaran dengan taraf kepentingan berbeda-beda, dan tidak semua orang bisa masuk dan tidak semua orang harus masuk ke lingkaran penting kita. Hubungan saya ibaratkan dengan rumah dimana orang yang di dalamnya harus berusaha saling menjaga dan berkompromi agar bisa rukun tinggal bersama. Terjebak di hubungan pertemanan yang toxic adalah ibarat mengundang seseorang masuk ke dalam rumah dan menghancurkan rumah tersebut dan kemudian menghancurkan kita. We should respect our home, our healthy relationship with people karena jika tidak, kita hanya akan merusak diri dan membodohi diri kita sendiri.

Setelah bertemu dengan jadwal pertemuan yang lumayan banyak, kebetulan inner circle saya sendiri lumayan banyak, I know that I’m very lucky person, karena mereka semua selalu menyempatkan waktu dan menerima dalam kondisi baik dan buruk. Mulai dari sekarang dan seterusnya I will be kind to people but remember to always keep my inner circle! and thanks Mrs R for nice advice! 

Lots of people want to ride with you in the limo, but what you want is someone who will take the bus with you when the limo breaks down. – Oprah Winfrey

25db99a57b493c6fa5060380d4303fc5
know your circle!

sumber gambar : https://www.pinterest.com/dapcat/quotes/

Pieces of Heart and Me

Akhir-akhir ini saya sedang memikir tentang “broken heart” dan “a way to heal it”. Sebenarnya patah hati dialami semua orang tapi ketika kita berhadapan dengan penyakit yang satu ini banyak dari kita mau tidak mau menangis atau sedih bahkan sampai trauma dan sebagainya.

Banyak yang bilang, “Jatuh cinta hanya patah hati yang tertunda”. Saya lumayan setuju dengan kalimat ini, karena tidak semua cinta terbalas atau ada juga yang terjebak dengan “friendzone”. But, that’s life, unpredictable, kita tidak bisa memprediksi apa yang terjadi ke depannya.

Ada banyak hal di dunia ini yg berada di luar kontrol kita,
kita harus belajar menerimanya.

Ini kalimat yang keluar dari salah satu senior saya waktu saya cerita bahwa saya sedang mengalami patah hati. Kalimt ini cukup menyadarkan sejenak diri saya yang sedang mellow dan sedih supaya mulai berpikir jernih sesuai kenyataan.

Terkadang jika sedang patah hati, kita merasa dunia itu sempit, kita sedih terpuruk tetapi berpura-pura normal jika sedang bersama orang lain, kita berpura pura baik-baik saja padahal didalamnya hati kita hancur berkeping-keping.

Butuh sekejap untuk menghancurkan sebuah hati tapi butuh waktu lama untuk menyembuhkannya.

Meskipun luka itu benar-benar sembuh, meskipun kita sudah tidak mempermasalahkan lagi hal itu dan melanjutkan hidup, semua memori sakit itu masih tersimpan di otak kita.

Saya terkesan ketika menonton Tv, mungkin ada beberapa yang tau tentang Mobbed, acara Tv yang saya tonton dan kebetulan tentang seorang wanita yang menyatakan cinta kepada si pria dan akhirnya si pria menjawab bahwa Ia hanya menganggap si wanita sebagai seorang yang spesial, teman yang dekat tapi tidak memiliki perasaan yang sama. Di akhir acara tersebut si wanita akhirnya mengatakan kalimat ini,

Awalnya semua ini tentang dia, tapi pada akhirnya semua ini
tentang aku, bagaimana seharusnya aku lebih berpikir tentang diriku.

Semua pelajaran patah hati yang saya alami akhirnya membawa saya ke
pertanyaan itu

Apakah ini semua tentang dia?

Memang akan sulit punya pikiran sehat disaat kita jatuh cinta, akan sangat memabukkan, dan membuat kita tidak berpikir rasional tetapi pada akhirnya kita harus bertanya,

Apakah ini yang terbaik untuk diri kita sendiri?

Banyak proses yang dilalui setiap orang untuk sembuh dari patah hati. Saya ketika sedang patah hati bisa sedih berhari-hari, saya langsung merencanakan banyak hal baru untuk dijalani, melakukan liburan mungkin jadi salah satu ide yang baik. Kita bisa menghabiskan waktu bersama sahabat-sahabat kita untuk pergi.

Ketika saya liburan panjang setelah pasca patah hati, waktu itu saya magang sekalian berlibur di Bali, yang saya rasakan itu dunia begitu besar, lebih besar dari yang saya kira begitu berbeda saat saya cuma bisa bersedih di kamar dan ternyata patah hati hanya bagian kecil dari diri saya dibandingkan dunia yang begitu besar.

“Patah hati hanya bagian dari hidup, bertahan, kita pasti akan melewatinya”

keep moving forward 🙂

Image

“We must be willing to let go of the life we have planned,
so as to accept the life that is waiting for us.”
~ Joseph Campbell

Keset dan Sepatu

welcomeshoes1
image source :http://rampages.us/ole/

Ahh..sudah lama saya tidak menulis blog..>.

bingung harus senang atau tidak, karena dosen ini termasuk yang standardnya tinggi dan jujur saya agak kurang cocok dan mengerti apa yang diajarkan, mungkin karena beliau ilmunya sudah tinggi sedangkan saya masih kurang berilmu.

Hari ini tepatnya pada tanggal 3 Desember 2011 adalah hari yang sudah saya tunggu-tunggu karena pada tanggal tersebut usia saya bertambah. Ada angka 1 di belakang angka 2 pertama, yang saya juga bingung harus sedih atau senang, rasanya makin tua, tetapi jiwa saya masih seperti gadis berumur 18 tahun sok muda :p.

Selama 21 tahun banyak hal yang sudah saya lalukan, setiap proses dalam hidup saya semuanya membentuk saya menjadi MONA yang seperti sekarang, saya ingat kalau dulu saya adalah anak yang penakut, saya selalu menjadi orang yang tidak terlihat.

Saya teringat perkataan salah satu teman saya, waktu kami berada di semester pertama kuliah ketika dia mempresentasikan lukisannya. Teman saya ini menggambar keset dan sepatu, dia cerita kalau dulu dia lebih sering jadi keset yang diinjak orang namun sekarang dia sudah tidak mau jadi keset lagi. Dia sudah berubah menjadi sepatu yang terlihat.

Masa-masa “menjadi keset” telah menghiasi hidup saya dari dulu. Saya bukan orang yang dominan bahkan saya susah mengutarakan keinginan saya dan pendapat saya, bahkan di lingkungan rumah saya tidak cukup di dengar. Saya sering menurut apa kata orang tua saya, saya bukan mengajarkan untuk membantah orang tua tetapi jika kita hanya menurut dan tidak punya tujuan sendiri serta keinginan sendiri bukankah kita sama saja dengan robot atau boneka? Saya seperti orang yang tidak punya tujuan saya sendiri. Semakin lama kita menjadi keset maka semakin lama kita jadi nyaman menjadi keset dan semakin terbiasa kita untuk diinjak.

Tanpa sadar saya terbiasa menjadi keset, terbiasa tidak terlihat dan semakin terbiasa diinjak orang, saya tidak sadar bahwa hal itu adalah kenyataan yang menyedihkan.

Proses dari keset untuk jadi sepatu tidak mudah karena orang lain sudah terbiasa menjadikanmu KESET. Banyaknya sepatu yang sudah menginjakmu membuatmu makin menyakini bahwa kamu memang KESET.

Saya harus berjuang untuk jadi sepatu, berjuang agar orang tidak menganggap saya keset. Berjuang agar orang bisa melihat saya adalah SEPATU dan tentunya SEPATU yang berbeda dari yang lain.

Seperti itulah yang saya alami sampai umur saya yang ke 21, dari seorang gadis yang selalu menunduk ketika berbicara di depan kelas menjadi gadis yang menatap lurus ketika berbicara di depan umum, dari seorang gadis yang selalu bergantung kepada orang lain menjadi gadis yang berusaha mandiri.

Dari seorang gadis kecil yang biasa diinjak-injak menjadi seorang gadis dewasa yang tidak akan membiarkan seseorang pun menginjak-injaknya. Dari seorang gadis yang penakut menjadi seorang gadis yang cukup untuk sekali saja menangis sekali ketika ia gagal dan besoknya ia akan memulai semuanya dari awal.

Semua proses dalam hidup yang ditulis tangan agungNya-lah yang membuat saya menjadi seperti ini. Tuhan mengubah saya yang “sebuah keset” menjadi “sebuah sepatu” meski banyak sekali proses yang menyakitkan tapi akhirnya semua itu membuat saya bersyukur, karena semua proses itu menjadikan saya gadis yang kuat seperti sekarang.

Di sore hari pada hari ulang tahun ini saya sendirian di kosan. Saya sengaja tidak menyicil tugas di hari ini. Hadiah terbaik yang bisa saya berikan untuk diri saya saat ini adalah satu hari bebas tanpa beban dan pikiran, Saya akan menikmati hari ini, hari ini dimana Tuhan mengirim saya ke bumi.

Ada satu kabar gembira lagi, saya sudah sembuh, pengobatannya berhasil dan sekarang saya tidak harus minum obat tiap hari lagi, praise The Lord!

Special thanks for my friend, Martina Ratnasari, untuk lukisan keset dan sepatu yang bermakna begitu dalam, sayang saya lupa memfoto lukisannya padahal lukisannya sangat bagus. Happy Birthday for me! God bless you all 🙂 !

Begitu banyak orang yang merasa dirinya hanyalah sebuah keset karena sudah begitu banyak pula orang lain yang menginjaknya. Keputusan untuk menjadi sepatu adalah keputusan pribadi bukan keputusan orang lain terhadap kita. Semua orang adalah sepatu dari awalnya dan mungkin mereka hanya butuh waktu untuk menemukan sepatu mereka di saat sepatu-sepatu lain terbiasa untuk menginjak mereka. -Monalisa D