Masihkah Orang Dewasa Bermimpi? — BLUESKYANDME

Photo by Graft Ground from unsplash.comJika ditanya urusan mimpi mungkin saya tidaklah senaif ketika saya kecil dulu. Saya ingat ketika guru di SD menanyakan kepada kami tentang cita-cita sambil menyuruh kami mengangkat tangan.“Siapa yang mau jadi dokter?” seketika itu juga jawaban riuh terdengar dari sebagian kelas sambil menunjuk tangan, “Sayaaaa!!”. Kemudian pertanyaan pun dilanjutkan dengan…

via Masihkah Orang Dewasa Bermimpi? — BLUESKYANDME

CURHATAN SEORANG LULUSAN ARSITEKTUR

9890_4792807112991_887563234_n
Captured by Panitia PSB Genap 2013. Image Source : Monica Sidharta Facebook
1148970_4792819793308_854170774_n
Captured by Panitia PSB Ars UI Genap 2013. Image Source : Monica Sidharta Facebook
1016288_10200315400024411_204039728_n
Foto Sehabis Saya lulus Sidang Skripsi 🙂

Post saya kali ini membahas hal yang sudah jarang saya bahas sejak saya lebih fokus di dunia kecantikan. Jangan salah, selama ini bekal bekal design, gradasi warna, shade, shape, shading yang saya pelajari di awal tahun saya kuliah di Arsitektur secara tidak langsung memberi sumbangsih dalam perjalanan saya mengenal dunia riasan wajah karena dua dunia ini masih bersinggungan dengan keindahan dan seni. Dibandingkan jurusan teknik lain, jurusan Arsitektur memang merupakan gabungan dari seni dan teknik. Saya masih ingat waktu saya keterima di jurusan ini dan di kampus yang memang sudah saya idamkan, meski tak bisa saya pungkiri saya sempat kepengen masuk Universitas berlambang Gajah Biru di daerah Bandung. Namun memang Tuhan punya rencana sendiri ketika menggariskan hidup saya masuk ke Universitas di Depok ini.

Alasan kenapa saya ingin masuk jurusan Arsitektur itu karena saya ingin mendesign rumah saya sendiri nantinya (yaiyalah pride Arsitek banget sepertinya membuat design rumah sendiri) dan wish list ini tetap jadi impian saya sampai suatu saat bisa terwujud, aminnn. Setelah saya lulus, saya juga sempat merasakan kerja di dunia konsultan Arsitek yang berbeda. Saya mengalami masa adaptasi yang cukup sulit karena memang dunia pendidikan berbeda daripada dunia kerja #sakitcuy. Trus apa sih monnn yang bedaa? Sebenarnya yang saya share selanjutnya sesuai dengan apa yang saya alami lho ya, mungkin ada yang langsung shine bright like a diamond setelah dari dunia pendidikan ke dunia kerja, atau ada yang merasa biasa aja, semua kembali lagi ke masing-masing individu.

Perbedaan Software di beberapa kantor

Bersyukurlah jurusan Arsitektur UI sekarang yang saya dengar sudah mulai memperbaiki pelajaran software arsiteknya karena pada jaman saya kuliah, saya cuma dapat ilmu-ilmu awal dalam software AUTOCAD tanpa short cut dan lebih banyak memperlajari ilmu ARCHICAD, itu pun tidak detail dari segi gambar kerja. Setelah lulus sebenarnya pertimbangan software apa yang kamu biasa pakai dengan kebutuhan software yang dipakai oleh kantor bisa jadi kendala, apalagi jika kantor yang kamu lamar bukan tipe yang suka mentoring anak fresh graduate yang saya rasa hal ini kadang aneh.

Saran saya sih pilih kantor yang memakai paling tidak beberapa software yang kamu kuasai supaya kamu juga tidak harus menyesuaikan dari nol. Software Arsitektur memang cukup banyak mulai dari AUTOCAD, ARCHICAD, RHINO, SKETCHUP dan REVIT dan semua ini tergantung dengan kebutuhan gambar dan 3D yang diperlukan sesuai standard kantor. Kantor yang baik tentunya harus mempunyai standard dalam gambar kerja serta sistem layering gambar agar semua pegawai punya standard yang sama untuk jadi acuan dalam mengerjakan gambar kerja dan 3D model. Bayangin jika standard gambar kerja dan software arsitektur tiap orang beda-beda pasti dokumen gambar akan susah di gabungkan atau di lanjutkan oleh rekan kerja yang lain.

Memilih kantor yang tepat setelah lulus

Ada beberapa kantor yang memerlukan lulusan Arsitek yaitu konsultan, kontraktor, dan developer dengan job desc yang berbeda. Arsitek dari sisi developer lebih banyak mengawas dan juga memastikan gambar dari konsultan Arsitek sesuai dengan yang owner minta, dari sini lebih banyak belajar design yang bisa dijual dari segi bisnis. Arsitek yang bekerja di kontraktor lebih mengacu kepada lapangan yaitu menemukan solusi lapangan agar design dari konsultan tetap bisa tercapai. Arsitek yang bekerja di konsultan Arsitek lebih mendapat ilmu design yang banyak dan juga mendesign dengan idealisme.

Pertanyaan berikutnya yang muncul pasti “trus saya harus pilih kerja dimana dong mon?”. Bekerja dimana saja sebenarnya tidaklah masalah semua tergantung dengan cocok apa tidaknya cara kerja tersebut kepada tiap individu. Ada beberapa teman saya yang pindah dari konsultan ke developer dan setelah itu baru merasa bahwa ranah yang sekarang lebih cocok. Tidak ada yang salah jika suatu saat kamu pada akhirnya pindah karena merasa kurang cocok di kantor konsultan misalnya, toh namanya juga mencari yang cocok dalam hidup seperti layaknya mencari jodoh, hehehe.

Beberapa teman saya juga ada yang off sementara setelah beberapa tahun bekerja karena ingin istirahat sejenak. Ada juga yang akhirnya bekerja sendiri atau lebih menikmati jadi freelance arsitek. Sekali lagi semua kembali kepada masing-masing individu karena pekerjaan pada akhirnya akan berhubungan dengan persoalan uang dan penghidupan masing-masing individu. Di luar dari ketiga kantor ini, ada juga pekerjaan lain yang membutuhkan arsitek namun tidak terlalu menggunakan ilmu arsitek dalam pekerjaannya, misalnya bekerja di area interior product, dinas tata kota, dan sebagainya.

Lingkungan kerja yang berbeda dengan lingkungan kampus

Berbicara tentang lingkungan kerja dan rekan kerja memang berbeda dengan lingkungan pendidikan di kampus. Ada persaingan dalam hal karir dan bisa jadi ada politik dan intrik dalam persaingan karir tersebut, saran saya sih jangan terlalu ikut campur dalam intrik-intrik dalam kantor karena kita tidak tahu kalau pada akhirnya kita bisa jadi salah satu korban sasaran berikutnya.

Banyak pekerja setelah di dunia pekerjaan jadi lebih sering “iya-iya saja” dengan semua keputusan atasan namun sepertinya hal itu kurang berlaku bagi saya. Saya selalu beranggapan sehebat apapun pemimpin ia tetaplah manusia biasa yang punya kesalahan jadi wajar jika pemimpin di kritik oleh bawahan untuk berkembang begitu juga sebaliknya, tentunya kritikan disampaikan dengan perkataan yang wajar dan sopan toh kita ini makhluk berpendidikan kan.

Beruntunglah kamu jika di dalam lingkungan kantor, kamu punya beberapa rekan kerja yang profesional dan bisa diandalkan, percaya deh hal ini meringankan beban kerja dan stress di kantor, jadi banyak berdoa sebelum masuk kantor baru ya. Lebih beruntung lagi jika kamu mempunyai pemimpin yang bisa mengembangkan potensimu dan memberikanmu banyak kesempatan untuk berkembang. Setiap kantor juga mempunyai metode kerja yang berbeda beda, ada yang lebih menekankan ke individual work namun ada juga yang menekankan kepada team work. Terlepas dari semua itu saran saya tetap pilih yang cocok dengan diri sendiri dan bukan karena orang lain.

Bergulat dengan long working hours

Kalau saya bilang kerja sebagai lulusan arsitek itu lembur-lembur terus sebenarnya tidak juga sih karena pekerjaan ini lebih tergantung pada proyek, jadi kadang padat kadang tidak. Saya lebih bahas dari segi konsultan ya karena pengalaman saya setelah lulus bekerja di ranah konsultan. Konsultan sendiri memang lebih sering lembur jika proyek sedang banyak dan jalan, namun ini kembali lagi pada efisiensi kerja dan rapat yang dilakukan.

Sebagai seorang Arsitek yang menurut saya bukan seniman murni yang harus nunggu inspirasi lama untuk kerja, harusnya mempunyai time schedule mulai dari apa saja yang perlu dikerjakan, pertimbangan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut, mana yang penting dikerjakan sekarang, rapat mana yang perlu di hadiri dan mana yang bisa diselesaikan tanpa perlu rapat, yang semua itu saya rangkum dalam kalimat “manajemen kerja dan waktu”. Apalagi sebagai ketua tim atau principal arsitek penting untuk menguasai hal tersebut karena kalo tidak maka dijamin kinerja tim akan kacau balau.

Tipe-tipe atasan pun berbeda beda mulai dari idealisme, cara mendesign, juga cara berpikir dan metode kerja. Saya sempat mendengar curhatan teman saya ketika mengeluhkan atasan yang tipenya seperti seniman, jadi cari inspirasi dulu kemana mana sampai menjelang deadline baru muncul idenya, alhasil tim-nya kacau balau menyelesaikan proyek. Memang kadang yang pintar belum tentu bisa memimpin, dan yang kreatif belum tentu punya memanajemen waktu yang baik, hal ini tentu kembali cocok tidaknya seseorang dengan budaya kerja di kantor konsultan tersebut.

Bergulat dengan manajemen stress

Waktu kerja yang lama dan lembur dadakan memberikan pengaruh dalam memicu stress. Bersyukurlah kamu jika kamu kerja di konsultan yang rekan kerjanya saling menguatkan ketika cobaan deadline datang. Profesi ini memang memiliki tekanan kerja yang berat dan susah dijelaskan jika tidak merasakan langsung bekerja di sebuah konsultan Arsitek, namun saya juga jarang melihat kantor konsultan memperhatikan manajemen stress untuk pekerjanya. Saran saya perlu ada yang menampung tentang hal ini karena profesi ini bukanlah profesi yang punya jaminan Undang-Undang atau masih belum jelas Undang-Undangnya.

Saran saya bekerja dimana pun jika kamu sudah merasakan beban kerja yang lebih berat dan stress yang mulai mengganggu kehidupan serta efektivitas kerja , bicarakan langsung dengan atasan. Saya sempat malu ketika ingin membicarakan hal ini kepada atasan saya namun atasan saya di kantor kedua lebih pengertian dan sangat menjaga privasi untuk hal ini. Ketika kamu mengalami beban pekerjaan diluar batas atau sedang mengalami masalah keluarga maupun pribadi jangan ragu bicarakan dengan bos secara langsung dan jangan langsung ke rekan kerja karena terkadang rekan kerja belum tentu mengerti beban-beban kerjamu dan masalah pribadimu, di kantor yang paling mengerti tentang beban kerja ya si pemberi kerja yaitu atasanmu sendiri.

10371383_10202145757902214_1179510203367134894_n
Ketika mengerjakan sayembara di kantor lama

Sekian sedikit curhatan dari saya yang hanyalah seorang lulusan Arsitek, saya menulis ini hanyalah bagian dari curhat saya dan apa yang saya alami tanpa menyinggung pihak apapun dan siapapun. Saya juga bukan tipe anti ilmu arsitektur karena toh saya sudah menyukainya setelah saya mempelajarinya selama 4 tahun di kampus tercinta. Semoga apa yang saya tulis bisa jadi gambaran dan juga perenungan agar profesi ini semakin lebih baik lagi. Kembali lagi bekerja dimana pun di dunia kerja asal halal sudahlah merupakan berkat yang patut disyukuri. Saya sendiri sampai sekarang masih mencari saya lebih cocok di kantor dengan tipe seperti apa. Semoga artikel ini sedikit membantu bagi calon arsitek yang baru saja lulus. See you on my next post readers 🙂 ! jangan lupa mampir ke domain baru saya di www.blueskyandme.com yang lebih banyak sharing tentang beauty 🙂

DEAR SELF, YOU DON’T NEED TO RUSH !

SquareMaker_20151130102927489

Badan saya sedang tidak bersahabat akhir-akhir ini, sering pegal, kadang rasa malas timbul, emosi yang naik turun, dan sering kali rasa bosan muncul bahkan di saat saya sedang sibuk-sibuknya urusan pergi event, pesanan grafis undangan melalui usaha saya @colourpalettedesign, rievew produk/event di blog, dan juga beberapa pesanan make up dari orang terdekat saya. Sebenarnya saya sangat bersyukur, meski belum memutuskan untuk kembali lagi kerja kantoran, banyak berkat yang saya dapatkan.

Saya sempat menonton salah satu video youtube dari salah satu blogger favorite saya, Andra Alodita, di salah satu videonya Mbak Alo sempat memberikan tips dalam relationship yaitu mengucap syukur atas segala sesuatu sebelum tidur. Sejenak saya sempat tersentak karena saya sudah jarang sekali mengucap syukur padahal banyak sekali berkat yang saya terima meski saya belum bekerja secara tetap. Sejak saya mulai membiasakan lagi berdoa dan mengucap syukur saya mem-flash back hal-hal yang kecil namun ternyata juga merupakan berkat bagi saya.

Ditengah-tengah kesibukan event blogging sana sini, jujur saya senang karena saya bisa dapat teman baru, bertemu dengan  beberapa brand, belajar banyak mulai dari make up, skin care, foto, dan membuat video sampai saya sempat jatuh sakit karena kelelahan dan kondisi cuaca yang juga tidak mendukung. Saya kemudian terdiam dan baru kali itu saya menyadari diri saya memang kelelahan dan butuh istirahat. Saya mulai mengingat-ingat apa tujuan saya blogging dan bagaimana blogging juga telah merubah saya. Saya mulai berpikir bahwa saya tidak ingin semakin tidak mengenali diri saya bahkan di dalam tahap saya menemukan diri saya sendiri, saya tidak mau ini hanya bagian kejar target dan agar saya sibuk.

Saya ingat pertama kali membaca salah satu blog dari blogger favorite saya. Saya bukan hanya tertarik dengan semua produk mahal, skin care bagus, event terupdate tetapi bahkan saya paling menikmati masa dimana tulisan-tulisan dari para pembuat blog yang bercerita tentang saat mereka menghadapi masalah dalam hidup, bagaimana mereka pertama kali jadi orang tua, bagaimana mereka berjuang untuk hidup sehat karena sempat sakit parah, bagaimana mereka mengejar karir mereka sampai membuka kantor sendiri, all those things are the real things. Hal personal tersebut justru menginspirasi saya lebih banyak dan membuat saya merasa bahwa saya tidaklah sendiri dalam perjalanan saya yang terkadang buta arah. Saya pernah mendengar quotes ini ketika saya sedang pause and pondering di acara persekutuan kampus saya dulu.

“Pelari yang terlalu keras berlari malah melenceng dari garis finish”

Apakah saya berlari terlalu keras sampai melupakan garis finish? Manusia wajar untuk menjadi letih, kita bukan Tuhan yang tidak pernah tidur. Berhenti, Beristirahat, waktu jeda termasuk waktu penyerahan diri dimana kita tahu kita tidak perlu terlalu keras berlari sehingga melenceng dari garis finsih. Saya sudah mulai mengurangi beberapa event ke depan, mulai memilah-milih mana yang harus diutamakan dan cocok untuk blog, mana yang baik dan mana yang terbaik. Saya perlu selalu mengingatkan diri saya bahwa tidak perlu terlalu keras berlari. DEAR SELF, YOU DON’T NEED TO RUSH !

Random Things About Me

SquareMaker_20151130154656215

Halo! Kali ini saya mengambil satu topik di luar dari topik biasa yang saya post di blog. Sebenarnya saya agak maju mundur untuk menulis topik ini karena saya sempat memutuskan untuk tidak memasukkan unsur terlalu personal di blog atau social media. Bagi saya media sosial adalah tempat berkarya, membagi pikiran, sharing info dan produk yang bermamfaat, menekuni hobi dan sebagainya, saya bisa bilang media sosial termasuk lingkup kerjaan juga jadi tidak semua hal dalam hidup terus-terusan saya share, I always have my real life outside this social media. Saya sangat bersyukur karena melalui blog dan komunitas blogger, saya bisa mengerjakan apa yang saya suka dan juga bertemu dengan banyak blogger lain. Hal yang saya share di blog post kali ini adalah beberapa hal tentang saya sendiri tentunya agar pembaca atau teman blogger lain lebih bisa mengenal saya sedikit hehehe.

Nama Panggilan kamu apa sih?

Nama panggilan saya Mona, tetapi kadang banyak beberapa teman yang membuat nama panggilan sendiri bagi saya bukan dalam artian yang jelek tentunya seperti monkichi, monchu, momo, dan debby.

Kamu dari keturunan apa?

Saya keturunan asli batak dari kedua orang tua tetapi lahir dan besar di jakarta.

Warna yang kamu suka?

Biru, merah, fuchsia, abu-abu, hitam, dan putih

Sejak kapan mulai blogging?

Saya mulai blogging itu tahun 2011 ketika saya masih kuliah dan saat itu isi blog saya masih tentang pemikiran dan curhat hehehe. Saya sempat vakum blogging ketika mulai bekerja dan lanjut lagi ketika keluar dari kerjaan kantoran.

Dulu kuliah di jurusan apa dan mengapa memilih jurusan itu?

Saya kuliah di jurusan Arsitektiur UI, saat itu di bayangan saya jadi Arsitek itu keren karena saya bisa design rumah saya sendiri (still my wish list) dan juga karena saya suka menggambar ternyata kuliahnya tidak seperti apa yang saya bayangkan ahahaa, but I still love Architecture.

Dulu sempat kerja dimana?

Saya sempat kerja di dunia konsultan Arsitektur, satu yang khusus lebih ke rumah dan interior, dan yang satu lagi lebih ke bangunan tinggi.

Kapan mulai tertarik dengan beauty dan make up?

Pertama kali mencoba dandan ketika saya semester akhir kuliah, pas jaman skripsi, saya main dandan-dandanan sama dua sahabat saya Tre dan Listya. Sebenarnya karena akhir-akhir tahun kuliah sering sidang dan presentasi jadi seengaknya bisa dandan dikit supaya nilai plus di penampilan ahahahha. Baru mulai serius belajar dan explore make up setelah 2 tahun dari kelulusan dan waktu itu saya bosan karena tidak ada aktivitas baru, sampai saya ikut beauty class dan waah sejak itu saya jadi suka explore make up dan juga mencoba skin care hehehe.

Tanggapan orang terdekat dan keluarga sejak kamu tertarik dengan beauty?

Teman teman terdekat senang bahkan saya sering jadikan mereka korban percobaan dandan. Keluarga awalnya menanggapi dengan negatif karena berpikir saya sampai segitunya mencari perhatian laki-laki dan hal itu sempat membuat saya sedih karena di salah mengertikan, saya sama sekali ga ada pikiran untuk menarik laki-laki bahkan menurut saya ketika perempuan memperhatikan penampilan dan memakai make up justru hal itu lebih berhubungan dengan personal wanita tersebut untuk lebih merawat dan mencintai dirinya sendiri. Semakin kesini makin bisa nerima dan bahkan minta diajarin dandan juga hehehehe

Apa makanan kesukaanmu dan yang tidak disuka?

Shushi dan ramen, segala sesuatu, apalagi makanan jepang. Saya tidak suka durian dan daging yang terlalu banyak bagian lemaknya dan jeroan.

Apa minuman kesukaanmu dan yang tidak disuka?

Es campur (itu minuman bukan sih) ahahha dan cokelat, sejauh ini suka semua minuman. Minuman yang tidak disuka yang rasanya pahit, saya tidak terlalu suka kopi apalagi yang pahit banget.

Apa film yang tidak pernah bosan kamu tonton dan kenapa?

Alice in wonderland, sampai sekarang masih suka nonton ntah kenapa saya ga habis-habisnya suka sama wonderland karena penuh dengan imajinasi. Saya suka film fantasi dan petualangan.

Siapa penyanyi favorite kamu?

My lovely lady Demi Lovato hehehe (saya termasuk lovatic). Penyanyi yang lain mungkin ariana grande, taylor swift, raissa, tulus, isyana. Boy band favorite saya sepanjang masa Nysnc, Backstreet Boys, yah beberapa artis 90-an karena itu kayaknya masa emas dalam hidup saya banget ahahahah.

Apa kota favoritemu untuk liburan?

Bali ! Saya suka kota yang banyak wisata pantainya dibanding wisata pengunungan.

Paling seneng sama orang yang seperti apa?

Seneng sama orang yang pengertian,  mau mendengar serta menghargai, yang juga selalu menjaga privasi. Saya suka orang yang ga ribet dan mau susah senang bareng.

Paling kesel sama orang yang seperti apa?

Paling ga suka sama orang yang suka ngumbar-ngumbar masalah di forum dan media social, yang ingin tahu banget masalah privasi kita dan bahkan bisa buka chat history di hp seenaknya tanpa permisi. Paling ga suka juga sama orang yang langsung judge ketika orang mau cerita, yang suka banding-bandingkan orang dengan orang lain. Ga suka juga sama orang yang sombong plus ambisius dan memamfaatkan segala cara demi mencapai apa yang dia mau sampai mamfaatkan orang, big no for me.

Sejak kapan suka menulis?

Kayaknya dari kecil kadang suka nulis sambil gambar, karena sering menghayal kadang suka nulis cerita fantasi pendek. Saat saya kecil saya jarang punya teman dekat, akhirnya saya buat cerita sendiri di buku tulis yang ga dipakai hehehe. Ketika kuliah juga saya bergabung di sie literatur persekutuan kampus jadi lumayan senang nulis artikel dan otak atik gambar dan editan di photoshop karena bidang itu rutin mengeluarkan majalah per tiga bulan.

Mengapa memilih nama BLUESKYANDME untuk blog?

Sebenarnya saya spontan kasih nama ini karena waktu itu saya bingung mau kasih nama blog saya apa, blog merupakan tempat curhat dan tempat menuangkan pemikiran bagi saya. Saya suka langit biru yang luas, mungkin kesannya lebih menggambarkan hidup sehari hari.

Hal yang ingin kamu capai ke depan?

Finding my dream job. Saya ingin menemukan sesuatu yang bisa saya kerjakan dan memang saya suka, bukan berarti saya harus punya karir yang wow. Saya ingin bisa mandiri secara finansial, karir, dan hidup, saya rasa itu hal yang lebih saya inginkan bahkan mungkin dibandingkan menikah.

Sekian dulu untuk random things about me semoga bisa menjadi sedikit pengenalan tentang penulis blog ini dan alasan saya membuat blog ini. Have a nice day guys!

Plant Your Garden

1661263_1755173978035694_1393964950869780068_n
Image source : simply organic life

Kemarin saya melihat sebuah quotes bagus di facebook dan akhirnya saya re-post di wall facebook saya. Tulisan qoutes tersebut bunyinya seperti ini

To plant a garden is to believe in tomorrow.

 Saya suka sekali dengan quotes ini karena isinya menekankan tentang harapan akan masa depan atau akan hari esok. Siapa sih yang tahu hari esok? Sebenarnya tidak akan ada yang tau hari esok, tidak akan ada yang tahu kapan antusiasme terhadap sesuatu atau seseorang akan berakhir, tidak ada yang akan tahu apakah yang kamu kerjakan akan berbalik menjadi pundi-pundi usahamu sendiri atau tidak. Intinya tidak ada yang tahu ke depan keputusan-keputusanmu sekarang akan gagal atau berhasil.

Lalu kenapa saya post tentang quotes ini di blog saya? Karena meskipun masa depan belum terbentuk, kita tetap mempunyai harapan yang baik di masa depan dengan melakukan sesuatu di masa sekarang. Saya kemudian bertanya kepada diri saya sendiri apa yang sudah saya tanam selama ini? atau apa yang saya sedang tanam sekarang? Jawabannya bisa banyak hal, bukan hanya hal besar tetapi hal-hal kecil yang kita tanam pun penting.

Pick your seed

Pilih bibit-bibit yang akan kamu tanam, apakah itu sesuatu yang kamu kerjakan di pekerjaanmu di kantor, atau mungkin hal kecil seperti blogging, atau bisa saja usaha kecil-kecilan dengan teman-temanmu. Jangan tanam hanya satu bibit, karena kamu tidak akan tahu bibit mana yang akan tumbuh dan mana yang akan gagal panen. Saya selalu mengamati manusia tidak hanya tertarik untuk mengerjakan satu hal tetapi juga punya hal-hal kecil lain yang bisa dikerjakan, contohnya kamu bekerja sebagai dokter, tetapi kamu juga hobi fotografi, sah sah saja kan. Saya sendiri sudah mulai menanam bibit lain disamping memperhatikan bibit utama yang saya tanam seperti usaha saya dengan teman, blogging, belajar make up, dan menggambar. Hal-hal kecil tersebut tentunya juga menyumbangkan sisi positif bagi saya secara individu.

Plant your seed

Tanam bibit yang sudah kamu pilih, tidak perlu terlalu memfokuskan hanya kepada satu bibit saja dan begitu ambisius dengan bibit utama tersebut, bibit lain juga akan bermamfaat kok untukmu J. Tanam apa saja yang sudah kamu pilih, start with small step tetapi konsisten untuk terus merawat dan mengembangkannya. Sometimes people doesn’t always praise you great work but also your perserverance in your work, they adore your progress. Ketika saya menyimak perjalanan salah satu beauty guru favorite saya Michelle phan, ternyata Mish mulai dari sebuah video youtube di rumahnya dan sekarang dia mempunyai lini kosmetik sendiri, menjadi salah satu beauty influencer, serta mewadahi komunitas yang bergerak di bidang kreatif dan kecantikan. Mish tidak fokus untuk berkompetisi, she becomes the best version of herself. I adore how Michelle pursue her dream not only inside her class in college but also outside her class. Saya tidak mau berpikir berkarir/bekerja hanya ketika saya berada di kantor tetapi saya juga mengejar mimpi saya di luar kantor, jadi ketika kita keluar dari kantor pun kita tahu bahwa we don’t stop there, we will always keep moving forward. Start something, start to plant, even it just about blog or small buisness.

Believe in tomorrow

Kita tidak selalu tahu apa yang akan terjadi di hari esok, tetapi harapan akan hari esok selalu ada. Saya pernah merasakan hari hari tanpa antusiasme hidup menyambut hari esok, dan beberapa kali masih saya alami sampai sekarang. Berharap akan hari esok adalah sebuah lampu semangat bagi setiap manusia. Tanpa ada harapan, manusia hanya akan hidup dalam kehampaan. Kenapa kita masih menanam padahal kita tidak tahu apakah ada hari esok? Karena harapanlah yang membuat kita yakin bahwa beberapa bibit yang kita tanam akan tumbuh, beberapa mungkin akan mati, beberapa mungkin akan gagal untuk di panen, tetapi untuk mempunyai keberanian menanam merupakan keberanian untuk berharap masih ada hari esok.

Selamat menanam apapun itu dan sekecil apapun yang sedang kamu usahakan!

 Let us not become weary in doing good, for at the proper time we will reap a harvest if we do not give up.

Galatians 6 : 9 NIV

HAPPY INTERNATIONAL WOMAN’S DAY!

woman

Ketika saya tahu bahwa hari ini adalah hari wanita internasional saya tertarik untuk menuliskan sebuah post khusus tentang wanita. Saya menulis bukan hanya karena saya seorang wanita tetapi karena begitu banyak pergumulan di pikiran saya dan di benak saya sejak saya besar sebagai seorang wanita dan bagaimana budaya Timur, lingkungan keluarga saya yang bisa dibilang masih agak kental dengan ke sukuannya, dan juga mungkin apa yang terjadi di masyrakat telah menjadi perdebatan di dalam pemikiran saya sampai sekarang. Bagaimana sebagai seorang wanita, saya merasa ada kerangkeng-kerangkeng yang tidak terlihat mata namun membuat batas di dalam hidup saya ataupun di wanita-wanita lainnya. Saya share sebuah video yang menginspirasi saya tentang feminisme dan apakah sebenarnya feminisme itu serta kaitannya terhadap seorang wanita, dan pandangan masyarakat selama ini.

Video yang saya share durasinya lumayan panjang, hehehe, jadi saya hanya akan membagikan poin-poin yang saya anggap penting dan merupakan garis besar dari ceramah yang ada di video tersebut.

Pandangan yang salah selama ini tentang feminisme

woman

Selama ini feminisme dianggap sebagai pandangan radikal yang mengutamakan hak-hak wanita yang masyarakat duga sebagai pandangan kebencian dari wanita terhadap kaum pria dan yang lainnya karena adanya perbedaan perlakuan akibat gender.

Perbedaan pandangan society tentang belum menikahnya seorang pria dan wanita

 A woman at a certain age who is unmarried, our society teaches her to see it as a deep, personal failure. And a man at a certain age who is unmarried we just think he hasn’t come around to making his pick.

Saya yakin untuk wanita menikah dan punya anak adalah sebuah kebaikan dan membawa kebahagiaan tersendiri tetapi apakah dengan siapa dia menikah juga tidak sama pentingnya? bukankah kesiapan hati dan batin wanita juga sama pentingnya dari pada sekedar “sudah berumur untuk menikah” ? Saya sempat mengamati tekanan yang ditujukan society ke pria lebih berbeda, seolah olah mereka memang tidak perlu dibebani dengan pertanyaan ini dengan alasan “toh mereka bisa nikah tua“. Seolah olah perkara nikah adalah penting dan darurat untuk kaum wanita tetapi tidak untuk ke kaum pria.

Perbedaan yang terjadi ketika sudah menikah, wanita lebih banyak berkorban

We’re all social beings, we internalize ideas from our socialization, even the language we use in talking about marriage and relationships illustrates this. The languange of marriage is often the language of ownership rather that the language of partnership. We use the word “respect” to mean something a woman shows a man but often not something a man shows a woman.

Both man and woman in Nigeria will say this is an expression I’m very amused by “I did it for peace in my marriage.” Now when man say it, it is usually about something that they should not be doing anyway. It’s something to say to their friends in a kind of fondly exasperated way, you know something that proves how masculine they are, how needed, how love, “oh my wife said I can’t go to club every night, so for peace in my marriage , i do it only in weekends. Now when a woman says, “I did it for peace in my marriage she’s usually talking about having giving up job, a dream, a career. We teach females that in relationships, compromise i what women do. We raise girls to see each other as competitors not for job or accomplishments which I think could be a good thing, but for attention of men.

Saya sempat membahas perihal kaum pria dan wanita ketika keduanya sudah menjadi suami istri ataupun orang tua dengan nenek saya. Nenek saya juga mengatakan lebih banyak kaum pria masa bodo urusan rumah tangga dan urusan mengurus anak serta lebih memberikan semua beban tersebut terhadap istrinya meski tidak semua. Saya yakin peran seorang bapak bukanlah hanya menafkahi tetapi bagaimana juga sebagai partner mengurus rumah tangga dan anak secara bergantian. Saya yakin pergumulan setiap wanita karir ketika menikah dan punya anak adalah bisakah mereka menggapai mimpi mereka lagi apalagi dalam dunia karir. Sebagai istri dan seorang ibu pastilah akan ada pilihan dan pergobanan yang dilakukan karena kita tidak lagi berpikir hanya untuk diri kita dan ambisi kita. Tetapi apakah suami hanya memaklumi dan tidak menanyakan mimpi-mimpi lain yang ingin diwujudkan istrinya? 🙂

Pandangan society tentang kekudusan (keperawanan/keperjakaan) yang berbeda antara pria dan wanita

We police girls, we praise for girls virginity but we don’t praise boys for virginity. And it’s always made me wonder how exactly this is supposed to work out.

Saya sempat menonton berita tentang pelecehan seksual terhadap anak dibawah umur di sebuah sekolah ber-standard international dan saya kaget ternyata yang menjadi korban adalah seorang anak laki-laki dan setelah kejadian tersebut anak yang menjadi korban menderita gangguan psikis karena trauma. Sejak saat itu saya mulai berubah pikiran tentang keperjakaan dan keperawaan baik dari laki-laki atau perempuan. Keduanya sama, sama-sama penting dan harus di hargai. Jangan memberikan kesan bangga terhadap pria yang sudah tidak perjaka dan justru menghakimi wanita yang sudah tidak perawan. Kita harus lebih mengajarkan pria untuk menghargai keperjakaannya sama seperti mengajarkan wanita untuk menghargai keperawanannya.

Pandangan society ketika kejahatan pemerkosaan terjadi terkadang tetap menyalahkan wanita.  

Recently a young woman was gang raped in a University in Nigeria, I think some of us know about that. And the response of many young Nigerians, both male and femal, was something along the lines of this, “yes rape is wrong, but what is a girl doing in a room with four boys?”. Now if we can forget, the horrible inhumanity of that response, these Nigerian have been raised to think of women as inherently guilty and have been raised to expect so little of men that the idea of men as savage beings without any control is somehow acceptable. We teach girl shame, “close your leg”, “cover yourself”. We make them feel as though by being born female they’re already guilty of something.

Saya sempat kaget ketika melihat postingan foto demo masyarakat di india pasca kejadian wanita yang diperkosa ramai-ramai oleh sekelompok pria di bus. Sebuah posting tulisan dari seorang pendemo menarik perhatian saya yang bertuliskan WE NEED TO TEACH MAN NOT TO RAPE RATHER THAN TEACH WOMAN HOW TO NOT GET RAPE. Saya setuju dengan pernyataan tersebut, berapa banyak dari keluarga atau lingkungan yang mengajarkan pria untuk menghargai wanita, mengendalikan nafsu mereka dan tidak memperkosa wanita? Berapa banyak kaum pria yang berani bertindak menegur atau pun menolong wanita yang sedang dilecehkan di depan matanya?

Society yang beranggapan “seharusnya” dalam gender daripada menitikberatkan kepada siapa sebenarnya diri kita

 The problem with gender is that prescribes how we should be rather than recognizing how we are.

Seorang wanita bukanlah hanya sekedar seorang wanita, mereka bisa jadi berprofesi dokter, arsitek, guru, dan sebagainya. Mereka punya mimpi yang sama dengan kaum pria, profesi yang sama dengan kebanyakan kaum pria. Menjadi seorang wanita bukanlah berarti mereka harus membatasi mimpi mereka di bawah kaum pria.

Budaya tidak seharusnya membuat manusia, manusialah yang membuat budaya

Some people will say that a woman being subordinate to a man is our culture. But culture is contstantly changing. I have beautiful twin nieces who are fifteen and live in Lagos, if they had been born a hundred years ago they would have taken away and killed because it was our culture to kill twins. So what is the point of culture? I mean the decorative, the dancing, but also culture really is about preservation and continuity of a people.

Culture does not make people, people make culture. So if it’s in fact true that the full humanity of women is not our culture, then we must make it our culture.

Feminisme adalah untuk semua orang baik pria dan wanita. Pria pun harus mempunyai sikap feminisme dan menghargai wanita untuk memperbaiki permasalahan gender. Feminisme adalah untuk semua orang.

My own definition of feminist is ; a feminist is a man and woman who say “yes, there’s a problem with gender as it is today, and we must fix it. We must do better.”

Sebagai seorang wanita yang hidup ditengah-tengah budaya Timur dan di lingkungan keluarga yang masih mengenal adat, saya pun merasakan dimana adat terkadang mengekang manusia, apakah adat yang mengatur kita atau kitalah yang mengatur adat? Hal yang juga sangat saya soroti adalah tekanan lingkungan pada wanita dan pria yang belum menikah lebih berat di wanita seolah-olah mereka harus menikah karena semua wanita lain menikah dan bukan karena kesiapan atau mungkin pilihan hati dari wanita itu sendiri. Belum lagi dengan masalah pelecehan seksual bagi wanita, wanita cenderung diam dan takut untuk mengungkapkan pelecehan seksual dan apakah wanita lain/pria lain yang berada disamping korban dan melihat kejadian pelecehan tersebut juga bertindak. Kebanyakan hanya diam, dan merasa tidak mau ikut campur.

Saya terkadang bertanya apa yang salah dengan semua ini, ternyata memang masyarakatlah yang tanpa sadar turun temurun mewariskan pandangan-pandangan salah selama ini. Apakah lantas hanya wanita yang harus menjadi feminisme untuk mendongkrak pemikiran ini, ternyata bukan, pria pun harus memiliki pandangan ini. Feminisme adalah untuk semua orang tanpa terkecuali. We just have to start teach both girl and boy about this feminism.

Selain femisime, saya ingin share sebuah video motivasi untuk wanita dimana video ini merupakan bentuk dukungan kepada wanita untuk terus bermimpi #OneDayIWill

Video berikutnya merupakan video dari artis-artis khususnya artis wanita ketika ditanya apa yang mereka ingin sampaikan untuk wanita di luar sana. Setelah saya menonton video ini saya cukup terkejut dengan betapa real-nya para artis Hollywood ini memberikan nasehat untuk generasi muda perempuan ditengah-tengah gemerlap dunia Hollywood dengan kecantikan dan popularitas. Pesan dari para artis ini lebih banyak tentang mengejar mimpi, menghargai dan mencinta kekurangan kita, jangan pernah membiarkan society mendefinisikan siapa diri kita dan sebagainya.

Berikut ini adalah pesan dari red carpet yang jadi favorite saya 🙂

w1

“Do not live someone else’s life and someone else’s idea of what womanhood is. womanhood is you. womanhood is everything that inside you”-Viola Davis

w2

“Be absolutely who you are and be stick to your instinct and your guts..and don’t try and be like other people” -Felicity Jones

w5

“And don’t take the Nike campaigns and the Victoria’s Secret campaigns and think you need a bigger boobs or better butt or you need a tighter ab or whatever else. Be happy with who you are and love your insecurities beacuse when you grow up, I think that’s what’s make you you, it’s gonna differentiate you from group.” -Chloe Grace Moretz

w4

“Be so good they can’t ignore you. keep to your morals, see through your integrity, and don’t stop fighting because ultimately for any dream, for any goal it takes a lifetime and what wouldn’t you wanna give it that? it’s not a race, it’s a journey, and enjoy the journey”  – Gina Rodriguez

Semoga video yang saya share bisa memotivasi :). Selamat hari wanita internasional untuk para wanita di luar sana! Terus berkarya dan terus mewujudkan mimpi-mimpi yang ingin di capai! Remember that you are worth it, strong enough, beautiful enough, and smart enough 🙂

“I love to see young girl go out and grab the world by the lapels. Life’s bitch. You’ve got to go out and kick ass.”

-Maya Angelou

Bahagia itu sederhana tetapi …

page 4 lemon

Siapa sih yang ga mau bahagia? Semua orang pasti ingin bahagia, karena ketika bahagia semua hal menjadi ringan untuk dijalani bahkan rasanya ga sulit untuk bangun pagi dan langsung memulai kegiatan karena kondisi hati sedang bahagia. Semua orang pernah merasakan bahagia, tetapi apakah setiap saat kita akan bahagia? Ya gak selalu. Banyak hal dalam hidup ini yang bisa buat kita bahagia dan tidak bahagia. Misalnya ketika kamu bangun pagi, kamu bahagia karena hari itu kamu akan pergi berlibur ke luar kota, tetapi di tengah jalan mobil kamu ketabrak orang dan orang itu ga mau tanggung jawab untuk mengganti rugi, mood kamu masih bisa senang? Saya jamin mood kamu akan rusak di menit-menit berikutnya. Bahagia adalah perasaan sementara yang dirasakan semua orang, dan coba realistis sedikit jika memang kamu lagi bete dan ga mood ga usah maksain diri kamu untuk bahagia karena kamu akan capek sendiri.

Banyak yang bilang bahagia itu pilihan, well I’m totally agree with this but this statement doesn’t have to force me to feel happy when i don’t feel that way, I’m human and not an angel. Kita punya standard bahagia kita sendiri, dan ga perlu tuh memaksakan standard kebahagiaan orang ke kita. Saya pernah mendengar statement seperti ini, “kok kamu ga betah sih disana, buktinya si X temen kampus kamu masih kerja disana?” atau kalimat kayak gini “Bodo ya dia, malah lanjut ke perusahaan B padahal dia udah lama dan settle banget di perusahaan A”. Berbagai macam komentar orang tentang apa yang mereka pikir baik dan bisa membuat bahagia orang yang mereka tuju. Jujur saya sampai bingung dan tidak habis pikir sama orang yang sering komentar kayak gitu, bagi saya hidup setiap orang berbeda masing-masing dan tidak bisa di generalisasikan, mungkin saja memang ada masalah kantor, masalah pribadi, masalah keluarga, keuangan dan segala hal yang tidak diumbar-umbar dari orang tersebut karena terlalu private untuk diceritakan ke orang lain.

 

BAHAGIA ITU SEDERHANA TETAPI STANDARD ORANG LAIN YANG KADANG MEMBUATNYA RUMIT

Sekali lagi saya tetap berpendapat bahwa bahagia itu sederhana tetapi orang lain bahkan terkadang orang sekitar kita sendiri yang membuatnya rumit. Saya sebagai seorang wanita di usia 25 tahun, dimana akan banyak pertanyaan tentang, kapan nikah? Sudah punya pacar atau belum? Masa ambil pacar dari beda suku? Dan sebagainya dan sebagainya dan jujur pertanyaan berulang ulang tersebut kadang bikin kuping sakit dan juga terkadang bikin hati sakit di saat kita sedang sensi. Celakanya orang yang terus menanyakan dan “merasa standard mereka bisa membuat kita bahagia” tidak sadar bahwa standard mereka bukanlah standard kita untuk bahagia. Sebagai contoh saya tidak suka sama durian, tetapi teman saya suka durian terus dia paksa saya makan durian karena durian itu enak. Akhirnya saya terpaksa makan durian sambil bilang enak enak dan di menit berikutnya saya muntah-muntah di kamar mandi. Seperti orang gila ya, ya benar sekali seperti orang gila!

Celakanya orang yang terus menanyakan dan “merasa standard mereka bisa membuat kita bahagia” tidak sadar bahwa standard mereka bukanlah standard kita untuk bahagia

Saya pernah liat orang gila/tidak waras dijalan yang rambutnya seperti digunting asal-asalan, bajunya pun seperti disobek asal, dan kalo dikasih makanan basi atau apapun yang sebenarnya ga layak untuk dimakan, mereka cuma senyum bahagia, atau bisa aja mereka malah makan makanan basi itu. Kita bukanlah orang gila dan ketika kita diberi sesuatu yang tidak baik menurut kita dan kita tidak suka sangat wajar bagi kita yang orang waras untuk menolak, bahkan dengan kata-kata yang tegas jika mereka sudah mulai kurang ajar ke kita.

 

BAHAGIA ITU SEDERHANA TETAPI EKSPEKTASI ORANG LAIN YANG MEMBUATNYA RUMIT. 

Sering kali manusia punya ekspektasi terlalu tinggi terhadap manusia lain, hati-hati dengan ekspektasi karena pada dasarnya mengandalkan manusia adalah perbuatan sia-sia belaka, manusia selalu mengecewakan. Saya pernah mengekspektasi orang yang saya suka juga tertarik kepada saya, dan hasilnya malah hancur dan ternyata apa yang saya harapkan hanya ilusi belaka. Saya juga pernah berharap beberapa teman dekat saya mengerti akan kondisi saya di saat terpuruk eh ternyata ada aja tuh yang menghindar malah ada yang men-judge saya tanpa dia sebenarnya tahu apa yang terjadi kepada saya, seolah-olah mereka tidak bisa menerima saya di saat saya gagal dan terpuruk, but that’s how you know they are fake people, and thanks God for that.

Orang tua dan saudara sekitar juga kadang menaruh ekspektasi yang tinggi terhadap kita, kalo tidak lulus di universitas B dibilang bodoh dan sebagainya padahal coba deh pikir, berapa jumlah orang yang ingin masuk dengan kapasitas universitas B, lagipula jika gagal bukan cuma kamu toh yang gagal. Keluarga saya pun termasuk keluarga yang ekspektasi tinggi mulai dari pendidikan, kerjaan, pasangan hidup dan sebagainya dan sebagainya. Saya juga pernah merasakan gimana orang lain berekspektasi tidak wajar terhadap saya dan pada akhirnya saya pun bingung sendiri dengan orang berekspektasi tinggi.

Seperti contohnya saya orang yang termasuk diam kalo marah, saya orang yang memendam amarah, dan di satu sisi saya menahan mulut saya dari kata-kata yang tidak saya olah terlebih dahulu ketika saya emosi, jangan sampai kata-kata itu merugikan orang lain dan juga merugikan saya. Tetapi justru yang terjadi adalah orang lain mengenal saya sebagai seseorang yang polos, sabar, diem aja kalo dikata-katain dan mungkin ada kali yang berpikir seperti ini, “ah mona ini, polos bego begini mah bisa kita mamfaatin dan kata-katain sesuka hati” dan ketika saya melakukan perlawanan malah orang tersebut sontak marah dan bilang harusnya saya tidak marah dan dia bilang baru tau hati saya sebenarnya tidak baik, sedangkan jika adik saya yang terkenal dominan dan marah sana marah sini justru orang tersebut tidak berani menegur. Saya jadi belajar mungkin karena saya bersabar justru mereka ekspektasi tinggi ke saya, padahal saya bukan malaikat lho, saya manusia. Sejak saat itu saya marah jika memang saya perlu marah dan mulai bodo amat dengan ekspektasi orang-orang kalo saya harus jadi anak baik.

Saya juga mulai berpikir jika saya malah terus hidup untuk memenuhi ekspektasi orang lain, saya sendiri yang capek dan misalnya saja saya dapat pasangan yang abusive wah saya bisa kacau balau karena orang yang abusive selalu merasa dirinya korban dan sayalah yang harus mengalah, seolah-olah sayalah yang harus jadi anak baik dan pada akhirnya saya tidak bisa stand up untuk membela diri saya.

 

BAHAGIA ITU SEDERHANA TETAPI BUTUH USAHA 

 Bahagia itu sederhana, seperti memutuskan untuk berlibur, memutuskan untuk mengambil s2, memutuskan untuk ikut komunitas hobi yang sama, tetapi semua itu butuh usaha. Kebahagiaan itu diusahakan dan bukan hanya datang ke kita. Apel yang sudah matang di pohon tidak akan selalu jatuh di pangkuanmu, apel yang sudah matang tersebut juga menunggu untuk dipetik oleh tanganmu ketika apel itu masih bergelantungan di pohon.

Bahagia butuh usaha karena tidak ada yang peduli kebahagiaan kita kecuali dirimu sendiri. Terkadang orang tua pun bisa saja memberikan sesuatu yang mereka pikir itu kebahagiaan kita tetapi ternyata bukan. Semua orang berhak bahagia asalkan kebahagiaan itu tidak mengganggu dan merugikan orang lain. Usahakan kebahagiaanmu karena tidak ada yang akan peduli kamu bahagia atau tidak kecuali dirimu sendiri.

ice cream

Saya yakin semua orang berhak untuk merasa bahagia asal kebahagiaan itu tidak mengganggu orang lain dan merugikan kita sendiri ya. Standard bahagia seseorang berbeda beda tidak perlu mengeneralisasikannya dari segi pasangan hidup, karir, uang, ataupun prestasi. Menjadi bahagia itu sederhana dan jangan membebani orang lain dengan standard kebahagiaanmu yang berbeda. Jangan berekspektasi terlalu lebih kepada manusia, punya pengharapan sangat wajar tetapi jangan sampai membuat kita buta bahwa gunung merapi bisa meletus kapan saja dan orang terdekat pun bisa meninggalkan kita.  Keep positive attitude! Be happy and be real too !

 

Apel yang sudah matang di pohon tidak akan selalu jatuh di pangkuanmu, apel yang sudah matang tersebut juga menunggu untuk dipetik oleh tanganmu ketika apel itu masih bergelantungan di pohon.

 

NOTE

These are my thoughts, experiences, and my lessons that I get from my life. Pengalaman dan pemikiran orang berbeda beda, tidak perlu memaksakan pemikiranmu jika tidak sesuai. Saya hanya ingin mensharingkan apa yang sudah saya dapat, balik lagi pengalaman hidup setiap individu itu berbeda dan tidak bisa di generalisasikan.