CURHATAN SEORANG LULUSAN ARSITEKTUR

9890_4792807112991_887563234_n
Captured by Panitia PSB Genap 2013. Image Source : Monica Sidharta Facebook
1148970_4792819793308_854170774_n
Captured by Panitia PSB Ars UI Genap 2013. Image Source : Monica Sidharta Facebook
1016288_10200315400024411_204039728_n
Foto Sehabis Saya lulus Sidang Skripsi 🙂

Post saya kali ini membahas hal yang sudah jarang saya bahas sejak saya lebih fokus di dunia kecantikan. Jangan salah, selama ini bekal bekal design, gradasi warna, shade, shape, shading yang saya pelajari di awal tahun saya kuliah di Arsitektur secara tidak langsung memberi sumbangsih dalam perjalanan saya mengenal dunia riasan wajah karena dua dunia ini masih bersinggungan dengan keindahan dan seni. Dibandingkan jurusan teknik lain, jurusan Arsitektur memang merupakan gabungan dari seni dan teknik. Saya masih ingat waktu saya keterima di jurusan ini dan di kampus yang memang sudah saya idamkan, meski tak bisa saya pungkiri saya sempat kepengen masuk Universitas berlambang Gajah Biru di daerah Bandung. Namun memang Tuhan punya rencana sendiri ketika menggariskan hidup saya masuk ke Universitas di Depok ini.

Alasan kenapa saya ingin masuk jurusan Arsitektur itu karena saya ingin mendesign rumah saya sendiri nantinya (yaiyalah pride Arsitek banget sepertinya membuat design rumah sendiri) dan wish list ini tetap jadi impian saya sampai suatu saat bisa terwujud, aminnn. Setelah saya lulus, saya juga sempat merasakan kerja di dunia konsultan Arsitek yang berbeda. Saya mengalami masa adaptasi yang cukup sulit karena memang dunia pendidikan berbeda daripada dunia kerja #sakitcuy. Trus apa sih monnn yang bedaa? Sebenarnya yang saya share selanjutnya sesuai dengan apa yang saya alami lho ya, mungkin ada yang langsung shine bright like a diamond setelah dari dunia pendidikan ke dunia kerja, atau ada yang merasa biasa aja, semua kembali lagi ke masing-masing individu.

Perbedaan Software di beberapa kantor

Bersyukurlah jurusan Arsitektur UI sekarang yang saya dengar sudah mulai memperbaiki pelajaran software arsiteknya karena pada jaman saya kuliah, saya cuma dapat ilmu-ilmu awal dalam software AUTOCAD tanpa short cut dan lebih banyak memperlajari ilmu ARCHICAD, itu pun tidak detail dari segi gambar kerja. Setelah lulus sebenarnya pertimbangan software apa yang kamu biasa pakai dengan kebutuhan software yang dipakai oleh kantor bisa jadi kendala, apalagi jika kantor yang kamu lamar bukan tipe yang suka mentoring anak fresh graduate yang saya rasa hal ini kadang aneh.

Saran saya sih pilih kantor yang memakai paling tidak beberapa software yang kamu kuasai supaya kamu juga tidak harus menyesuaikan dari nol. Software Arsitektur memang cukup banyak mulai dari AUTOCAD, ARCHICAD, RHINO, SKETCHUP dan REVIT dan semua ini tergantung dengan kebutuhan gambar dan 3D yang diperlukan sesuai standard kantor. Kantor yang baik tentunya harus mempunyai standard dalam gambar kerja serta sistem layering gambar agar semua pegawai punya standard yang sama untuk jadi acuan dalam mengerjakan gambar kerja dan 3D model. Bayangin jika standard gambar kerja dan software arsitektur tiap orang beda-beda pasti dokumen gambar akan susah di gabungkan atau di lanjutkan oleh rekan kerja yang lain.

Memilih kantor yang tepat setelah lulus

Ada beberapa kantor yang memerlukan lulusan Arsitek yaitu konsultan, kontraktor, dan developer dengan job desc yang berbeda. Arsitek dari sisi developer lebih banyak mengawas dan juga memastikan gambar dari konsultan Arsitek sesuai dengan yang owner minta, dari sini lebih banyak belajar design yang bisa dijual dari segi bisnis. Arsitek yang bekerja di kontraktor lebih mengacu kepada lapangan yaitu menemukan solusi lapangan agar design dari konsultan tetap bisa tercapai. Arsitek yang bekerja di konsultan Arsitek lebih mendapat ilmu design yang banyak dan juga mendesign dengan idealisme.

Pertanyaan berikutnya yang muncul pasti “trus saya harus pilih kerja dimana dong mon?”. Bekerja dimana saja sebenarnya tidaklah masalah semua tergantung dengan cocok apa tidaknya cara kerja tersebut kepada tiap individu. Ada beberapa teman saya yang pindah dari konsultan ke developer dan setelah itu baru merasa bahwa ranah yang sekarang lebih cocok. Tidak ada yang salah jika suatu saat kamu pada akhirnya pindah karena merasa kurang cocok di kantor konsultan misalnya, toh namanya juga mencari yang cocok dalam hidup seperti layaknya mencari jodoh, hehehe.

Beberapa teman saya juga ada yang off sementara setelah beberapa tahun bekerja karena ingin istirahat sejenak. Ada juga yang akhirnya bekerja sendiri atau lebih menikmati jadi freelance arsitek. Sekali lagi semua kembali kepada masing-masing individu karena pekerjaan pada akhirnya akan berhubungan dengan persoalan uang dan penghidupan masing-masing individu. Di luar dari ketiga kantor ini, ada juga pekerjaan lain yang membutuhkan arsitek namun tidak terlalu menggunakan ilmu arsitek dalam pekerjaannya, misalnya bekerja di area interior product, dinas tata kota, dan sebagainya.

Lingkungan kerja yang berbeda dengan lingkungan kampus

Berbicara tentang lingkungan kerja dan rekan kerja memang berbeda dengan lingkungan pendidikan di kampus. Ada persaingan dalam hal karir dan bisa jadi ada politik dan intrik dalam persaingan karir tersebut, saran saya sih jangan terlalu ikut campur dalam intrik-intrik dalam kantor karena kita tidak tahu kalau pada akhirnya kita bisa jadi salah satu korban sasaran berikutnya.

Banyak pekerja setelah di dunia pekerjaan jadi lebih sering “iya-iya saja” dengan semua keputusan atasan namun sepertinya hal itu kurang berlaku bagi saya. Saya selalu beranggapan sehebat apapun pemimpin ia tetaplah manusia biasa yang punya kesalahan jadi wajar jika pemimpin di kritik oleh bawahan untuk berkembang begitu juga sebaliknya, tentunya kritikan disampaikan dengan perkataan yang wajar dan sopan toh kita ini makhluk berpendidikan kan.

Beruntunglah kamu jika di dalam lingkungan kantor, kamu punya beberapa rekan kerja yang profesional dan bisa diandalkan, percaya deh hal ini meringankan beban kerja dan stress di kantor, jadi banyak berdoa sebelum masuk kantor baru ya. Lebih beruntung lagi jika kamu mempunyai pemimpin yang bisa mengembangkan potensimu dan memberikanmu banyak kesempatan untuk berkembang. Setiap kantor juga mempunyai metode kerja yang berbeda beda, ada yang lebih menekankan ke individual work namun ada juga yang menekankan kepada team work. Terlepas dari semua itu saran saya tetap pilih yang cocok dengan diri sendiri dan bukan karena orang lain.

Bergulat dengan long working hours

Kalau saya bilang kerja sebagai lulusan arsitek itu lembur-lembur terus sebenarnya tidak juga sih karena pekerjaan ini lebih tergantung pada proyek, jadi kadang padat kadang tidak. Saya lebih bahas dari segi konsultan ya karena pengalaman saya setelah lulus bekerja di ranah konsultan. Konsultan sendiri memang lebih sering lembur jika proyek sedang banyak dan jalan, namun ini kembali lagi pada efisiensi kerja dan rapat yang dilakukan.

Sebagai seorang Arsitek yang menurut saya bukan seniman murni yang harus nunggu inspirasi lama untuk kerja, harusnya mempunyai time schedule mulai dari apa saja yang perlu dikerjakan, pertimbangan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut, mana yang penting dikerjakan sekarang, rapat mana yang perlu di hadiri dan mana yang bisa diselesaikan tanpa perlu rapat, yang semua itu saya rangkum dalam kalimat “manajemen kerja dan waktu”. Apalagi sebagai ketua tim atau principal arsitek penting untuk menguasai hal tersebut karena kalo tidak maka dijamin kinerja tim akan kacau balau.

Tipe-tipe atasan pun berbeda beda mulai dari idealisme, cara mendesign, juga cara berpikir dan metode kerja. Saya sempat mendengar curhatan teman saya ketika mengeluhkan atasan yang tipenya seperti seniman, jadi cari inspirasi dulu kemana mana sampai menjelang deadline baru muncul idenya, alhasil tim-nya kacau balau menyelesaikan proyek. Memang kadang yang pintar belum tentu bisa memimpin, dan yang kreatif belum tentu punya memanajemen waktu yang baik, hal ini tentu kembali cocok tidaknya seseorang dengan budaya kerja di kantor konsultan tersebut.

Bergulat dengan manajemen stress

Waktu kerja yang lama dan lembur dadakan memberikan pengaruh dalam memicu stress. Bersyukurlah kamu jika kamu kerja di konsultan yang rekan kerjanya saling menguatkan ketika cobaan deadline datang. Profesi ini memang memiliki tekanan kerja yang berat dan susah dijelaskan jika tidak merasakan langsung bekerja di sebuah konsultan Arsitek, namun saya juga jarang melihat kantor konsultan memperhatikan manajemen stress untuk pekerjanya. Saran saya perlu ada yang menampung tentang hal ini karena profesi ini bukanlah profesi yang punya jaminan Undang-Undang atau masih belum jelas Undang-Undangnya.

Saran saya bekerja dimana pun jika kamu sudah merasakan beban kerja yang lebih berat dan stress yang mulai mengganggu kehidupan serta efektivitas kerja , bicarakan langsung dengan atasan. Saya sempat malu ketika ingin membicarakan hal ini kepada atasan saya namun atasan saya di kantor kedua lebih pengertian dan sangat menjaga privasi untuk hal ini. Ketika kamu mengalami beban pekerjaan diluar batas atau sedang mengalami masalah keluarga maupun pribadi jangan ragu bicarakan dengan bos secara langsung dan jangan langsung ke rekan kerja karena terkadang rekan kerja belum tentu mengerti beban-beban kerjamu dan masalah pribadimu, di kantor yang paling mengerti tentang beban kerja ya si pemberi kerja yaitu atasanmu sendiri.

10371383_10202145757902214_1179510203367134894_n
Ketika mengerjakan sayembara di kantor lama

Sekian sedikit curhatan dari saya yang hanyalah seorang lulusan Arsitek, saya menulis ini hanyalah bagian dari curhat saya dan apa yang saya alami tanpa menyinggung pihak apapun dan siapapun. Saya juga bukan tipe anti ilmu arsitektur karena toh saya sudah menyukainya setelah saya mempelajarinya selama 4 tahun di kampus tercinta. Semoga apa yang saya tulis bisa jadi gambaran dan juga perenungan agar profesi ini semakin lebih baik lagi. Kembali lagi bekerja dimana pun di dunia kerja asal halal sudahlah merupakan berkat yang patut disyukuri. Saya sendiri sampai sekarang masih mencari saya lebih cocok di kantor dengan tipe seperti apa. Semoga artikel ini sedikit membantu bagi calon arsitek yang baru saja lulus. See you on my next post readers 🙂 ! jangan lupa mampir ke domain baru saya di www.blueskyandme.com yang lebih banyak sharing tentang beauty 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s