My Sister’s Wedding

Akhirnya, saya punya waktu untuk duduk di depan laptop tepatnya di kamar adik saya, sambil memandang langit biru dari jendela kamar sambil menulis blog ini. Sebenarnya agak telat sih menulis topik ini karena ini sudah 7 hari setelah pernikahan kakak saya.

Sebelumnya memang sama seperti acara pernikahan lain semua persiapan menguras waktu, energi dan pikiran, meskipun saya akui saya tidak terlalu banyak berkontribusi karena saya kuliah di depok ampun kak fit :p. Puji Tuhan semua berjalan dengan baik meskipun harus bangun pagi untuk berdandan dan sanggulan.

Semalam sebelum hari pernikahan kakak, beberapa saudara menginap dirumah. Saya, adik, kak fitha dan kak ewa (bridemaid) tidur bareng di kamar adik saya. Saya dan adik saya tidur di lantai sambil menggelar tikar sedangkan kak fitha dan bridemaid-nya tidur diatas tempat tidur. Semua berjalan seperti biasa, sama seperti malam-malam biasanya. Kami tidur sekitar jam 1 malam dan harus bangun jam 3 pagi untung dandan dan meskipun sudah tidur 2 jam rasanya seperti hanya tidur setengah jam,
entah mengapa badan rasanya mau rontok.

Tepat sebelum jam menunjukkan jam 3 pagi, mungkin setengah jam sebelum jam 3 pagi, semua orang sudah mulai bergerak dan bangun karena saya sayup-sayup mendengar langkah kaki orang-orang lalu lalang dari luar kamar dan tepat saat itu si kakak turun ke tikar kami dan tidur sambil memeluk kami berdua.

Saya yang tadinya biasa aja jadi merasakan perasaan sedih tiba-tiba. Ketika memejamkan mata saat itu yang saya lihat adalah samar-samar putaran ulang kehidupan kami bertiga mulai dari kami kecil sampai akhirnya dewasa di masa sekarang. Semua memori muncul seperti putaran film lama yang cepat. Saya baru menyadari bahwa “kita semua makin dewasa dan semua hal berubah” saya jadi mikir, selama ini saya kemana aja ya..ahaha. Semua anak pada akhirnya akan memulai keluarga baru dan meninggalkan keluarganya sekarang. Kasian juga orang tua saya kalau akhirnya kami smua pergi dan memulai keluarga baru, mereka harus belajar rukun dari sekarang ahahaha.

Setelah alarm jam berbunyi, kami semua bangun. Penata rias yang dipesan datang kerumah dan kami bergantian didandani. Setelah semua selesai, akhirnya keluarga mempelai pria datang kerumah. Ada acara semacam makan ikan mas, dan makan-makan sebentar. Barulah kami menuju gereja untuk pemberkatan nikah.Gereja yang kami tuju ialah gereja HKBP Rawamangun.

Lalu lintas lancar pun lancar, mungkin karena masih pagi juga jadi tidak banyak mobil lalu lalang. Sampai di sana kami ke ruangan majelis (*kayaknya namanya ruangan majelis) kemudian kami mengiringi pengantin di belakang pada saat memasuki gedung gereja. Salah satu keponakan mengiringi dengan menyanyikan lagu “Great is Thy Faithfulness”. Setiap kali menghadiri pernikahan, saya paling suka ketika pengantin masuk ke gedung pernikahan sambil diiringi lagu, rasanya sangat terharu.

Ketika acara di gereja, kedua keluarga banyak yang memberikan persembahan pujian. Sebenarnya saya juga mau nyanyi pas pemberkatan di gereja tapi karena sudah banyak yang nyanyi, jadi lebih baik saya gak jadi (*takut kelamaan) dan memang karena kesibukan kuliah, saya tidak sempat terlalu banyak latian (*selama ini latian dikosan).

Setelah pemberkatan, kami menuju ke gedung untuk acara adat. Ternyata di gedung banyak banget tamu yang datang. Tamu nasional disediakan tempat di atas. Saya akui masakannya enak meskipun harus antri karena banyak orang datang. Tamu adat disediakan ruangan di bawah dekat dengan panggung. Ternyata sebelum acara mangulosi (pemberian ulos dan nasehat dari keluarga) saya dan adik saya ikutan menari ketika hendak maju kedepan, dan itu hanya di kasih tahu saat itu dan tanpa latihan kebiasan acara bat*k semua serba dadakan dan tidak teratur. Dengan modal muka tembok dan we did it!. Sepertinya saya merusak tarian tor-tor (=_=),,sorry guyss! ahahaha.

Ayah saya juga sempat nyanyi lagu untuk si pengantin Lagu andalan jika ada pernikahan adat batak, “Boru panggoaran”. Lagu tersebut bercerita tentang seorang ayah yang melepas anak perempuannya pergi. Kakak saya sudah nangis-nangis ketika ayah saya menyanyikan lagu tersebut dan akhirnya saya pun ikutan menangis karena terharu bahkan ketika saya memeluk kakak saya, saya sempat menangis lagi karena suasananya begitu haru.

Acara dilanjutkan dengan mangulosi dimana setiap keluarga maju dan meminta lagu ke band, menari terlebih dahulu baru memberikan ulos. Pesta adat batak mengharuskan keluarga yang menikah mengundang keluarga lengkap sampai saya sendiri tidak mengenali banyak orang disana. Acara pernikahan adat selesai sekitar jam setengah 8 (*kalo tidak salah). Saya sempat risih karena selama acara pernikahan, banyak yang nanya “Pacarmu ga datang mon?” Saya sempat diam ditanya hal itu kemudian saya jawab sambil senyum,”Gak, hehe”. Susah memang kalo gak ada tampang-tampang jomblo ahahhaa. Saya sudah menetapkan kalo saya tidak mau asal bawa laki-laki, yang mendampingi saya haruslah orang yang memang sudah serius akan menjadi calon suami saya, saya tidak sembarangan asal jalan dengan pria .Jika tidak ada juga tidak masalah karena memang belum waktunya dan pikiran saya masih jauh untuk kesana.

Selama menunggu acara selesai yang saya lakukan makan dan juga cerita-cerita sama saudara dan kak ewa (*ngerumpi) karena suasana pernikahan adat batak itu ramai dan pengantin sibuk dengan prosesi adatnya sedangkan pihak adik-adik seperti saya ya paling bantu-bantu dan melihat prosesi. Topik yang kami sharingkan adalah pasangan hidup mungkin karena suasana di pernikahan juga. Thanks to kak ewa for her sharing :), ceritanya sangat menguatkan saya. Di akhir acara sebelum pulang percakapan kami singkatnya seperti ini :

Saya              : “Semoga cepet nyusul ya kak!”
Kak ewa        : “Amin, semoga kamu juga cepat menemukan The One ya!”
Saya              : AMIIINNN! *dalam hati jawabnya ahaha

Sampai akhirnya acara selesai, kakak saya pergi ke rumah mertua untuk acara lagi dan kami pulang, hikss. Saya agak sedih jadinya but I’m happy for her 🙂

Setelah melihat kalian saya tahu bahwa menemukan pasangan hidup bukan hanya menemukan pacar dengan romantisme kaum muda dan segala hal tentang jalan-jalan malam mingguan tapi semua itu tentang menemukan orang yang bisa berbagi suka dan duka dalam hidup.

Menemukan sahabat seumur hidup, menemukan seseorang yang yang menjadi bagian hidup. Menggenapi rencana dan amanat Tuhan untuk menbangun keluarga yang kudus. Menemukan seseorang yang akan menemani disaat susah dan senang. Menemukan seseorang yang saling membangun dalam hal rohani dimana Kasih dan Komitmen diwujudkan dalam sebuah pernikahan meskipun mungkin ke depannya hal itu tidak sesempurna yang dibayangkan.

Happy Wedding for both of you, Kak fitha dan Bang Guran. God bless and lead your new family!

Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka.Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir”. (pengkhotbah 3 : 11)

Sedikit tentang kitab pengkhotbah (*study bible di kampus tentang kitab ini), menurut refrensi banyak yang mengatakan bahwa penulisnya adalah Raja Salomo dan sampai sejauh ini selama mem-PA-kan beberapa pasal dari kitab ini, penulis mencoba menemukan arti hidup dan mencoba menemukan adakah yang kekal di bawah matahari. Ketika membaca ayat ini sempat berpikir mungkin karena itu Ia memberikan kekekalan dalam hati kedua manusia dalam pernikahan yang Ia berkati
karena memang tidak ada kekekalan di dunia kecuali jika Allah sendiri yang memberikannya,,hehe (*tafsiran liar saya)

Happy Wedding! 😀

I dreamed of a wedding of elaborate elegance,

A church filled with family and friends.

I asked him what kind of a wedding he wished for,

He said one that would make me his wife.

~Author Unknown

Advertisements